MEMAHAMI SIKAP DAN PERILAKU ORANG BERIMAN


BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Dalam kehidupannya, manusia tidak akan pernah bisa lepas untuk mencari nilai-nilai kebenaran yang sebenarnya karena kesehariannya manusia dihadapkan berbagai macam persoalan yang membutuhkan penyelesaian. Dengan perkembangan iptek yang pesat ini persoalan hidup menjadi lebih kompleks dan manusia pun semakin sulit mengatasi persoalan hidupnya. Di saat kita manusia tidak bisa menyelesaikan atau mengatasi persoalan hidup. Kita pasti lebih memilih lari dari masalah tersebut dan melakukan hal-hal yang menyimpang seperti minuman-minuman keras, narkoba, dll. Dan bahkan tidak sedikit dari mereka yang melakukan bunuh diri gara-gara tidak bisa mengatasi persoalan kehidupan.

Di sinilah iman dan taqwa itu mengambil perannya sebagai jalan keluar atau solusi untuk menyelesaikan masalah kehidupan itu tersebut. Ketika seseorang telah bisa memahami dan menerapkan konsep dari iman dan taqwa tersebut kedalam kehidupannya maka ia dapat mengatasi permasalahan hidupnya. Jadi iman dan taqwa itu sangat penting bagi manusia khususnya bagi kita pemeluk agama islam, agar mendekatkan kita kepada Allah SWT. Dan menjadi hamba yang beriman dan bertaqwa. Dengan begitu konsep iman dan taqwa itu perlu untuk dikaji.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Sikap Dan Perilaku Orang Beriman

Orang beriman adalah orang yang memiliki landasan hidup yang kukuh dan benar, yakni landasan hidup yang berdasarkan wahyu Allah SWT. Dengan landasan hidup tersebut orang beriman memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan manusia lain. Hidup manusia yang tidak dilandasi iman, tak ubahnya seperti kehidupan hewan ternak, yang hanya makan, minum, bekerja, tidur, dan beranak. Sebaliknya, dengan landasan iman, hidup manusia akan terarah, sesuai dengan yang dihekendaki penciptanya, yakni Allah SWT.

  1. Taqwa kepada Allah SWT

Taqwa kepada Allah berarti menjalankan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Taqwa juga berarti berhati-hati dalam hidup, yakin menjaga diri dari semua aturan yang diberikan Allah sebagai penciptanya. Taqwa kepada Allah menjadi kewajiban setiap muslim.

Firman Allah

 

 

“Hai orang-orang yang beriman, taqwalah kamu kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat). Bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS Al Hasyr: 18)

 

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali engkau mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali ‘Imran: 102)

Memperhatikan apa-apa yang telah dikerjakan untuk hari esok berarti mengadakan evaluasi kerja dan mengadakan perencanaan kerja di masa-masa yang akan datang. Hari esok ada dua macam, yakni hari esok yang dekat (di dunia ini) dan hari esok yang jauh (di akherat kelak)

  1. Berbuat baik kepada kedua orang tua

Orang tua (ayah dan ibu) adalah orang yang menjadi perantara hidup manusia di dunia. Islam memberi tuntunan bahwa setiap anak wajib berbuat baik kepada kedua orang tuanya, walaupun berbeda agama dengan dirinya sendiri.

Firman Allah:

 

 

 

 

 

 

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (Q.S An – Nissa: 36)

Islam tidak memberi batasan tentang berbuat baik kepada orang tua. Hal ini diserahkan kepada kebijakan manusia (anak) Sesuai dengan Kondisi masing-masing orang tuanya. Islam hanya memberi batasan bahwa berbuat baik kepada kedua orang tua tidak boleh melanggar hak-hak Allah, misalnya dengan cara menyekutukan-Nya.

Apabila kedua orang tua mengajak berbuat maksiat kepada Allah (misalnya menyekutukan-Nya) maka anak tidak boleh mengikuti ajakan tersebut, namun tetap berikap baik kepadanya.

Firman Allah SWT:

 

 

 

 

 

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.…” (QS. Luqman: 15).

Di samping wajib berbuat baik, kita dilarang untuk menyakiti hati kedua orang tua, sebagaimana firman-Nya.

 

 

 

 

“ Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia:. (QS. Al Israa’: 23)

Apabila kedua orang tua belum Islam, hendaklah dido’akan agar mendapat petunjuk dari Allah sehingga mau masuk Islam. Jika keduanya telah meninggal, hendaklah dido’akan agar mendapat ampunan di sisi-Nya, misalnya dengan lafal do’a:

 

“Ya Rab kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (QS. Ibrahim: 41)

  1. Berbuat baik kepada sesama manusia

Kewajiban berbuat baik kepada sesama manusia telah ditegaskan Allah dalam firman-Nya sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua (ibu bapak), karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, Ibnu Sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisaa’: 36)

Selanjutnya Rasulullah SAW. Melarang kepada muslim untuk meremehkan, menyakiti hati dan sebagainya. Sabda Rasulullah SAW.

“(Seorang) muslim adalah saudara bagi muslim (lain), tidak boleh (seseorang) menganiyaya dia, tidak boleh mengecewakan dia, tidak boleh menghinakan dia, Taqwa ada di sini! Dan beliau memberikan isyarat ke dadanya tiga kali sambil bersabda: “Cukup jahat apabila seseorang menghina saudaranya (muslim yang lain). Tiap Muslim terhadap Muslim (yang lain) haram darahnya, harta, dan kehormatannya”. (HR. Muslim).

  1. Berfikir Positif (Qona’ah)
  2. Pengertian:

Rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki sehingga jauh dari sifat kurang yang berlebihan. Orang qona’ah giat bekerja atau berusaha dan bila hasilnya kurang memuaskan, rela menerima dengan syukur kepada Allah. Hikmah qona’ah adalah symbol rasa tentram dalam hidup, sehingga terhindar dari sifat serakah dan tamak.

H.R. Muslim: “Beruntung orang Islam, rezekinya cukup; dan merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah kepadanya”.

Q.S Hud 6: “Dan tidaklah binatang yang melatapun di bumi, kecuali ditentukan rizkinya oleh Allah”.

Jadi dengan demikian orang yang qona’ah adalah yakin akan ketentuan Allah SWT. Pengertian harfiah dan qona’ah adalah menerima cukup/menerima secara puas, apa adanya. Sedang pengertian secara istilah adalah:

  1. Menerima dengan rela apa adanya
  2. Menerima dengan sabar apa adanya
  3. Memohon kepada Tuhan tambahan yang pantas, dan berusaha
  4. Bertawakal kepada Allah
  5. Tidak tertarik oleh tipu daya manusia
  6. Qona’ah dalam kehidupan
  7. Pengendalian hidup sehingga tidak turut dalam keputusasaan dan tidak terlalu maju dalam keserakahan
  8. Qona’ah berfungsi sebagai stabilisator dan dinamisator dalam hidup
  9. Berfungsi sebagai stabilisator
  • Berlapang dada dalam situasi dan Kondisi apapun
  • Berhati tentram
  • Merasa kaya dan berkecukupan dalam hidup sederhana
  • Bebas dari keserakahan, karena kekayaan atau kemiskinan terletak pada hati bukan terletak pada harta yang dimiliki
  1. Berfungsi sebagai dinamisator artinya qona’ah merupakan kekuatan bathin yang selalu mendorong seseorang untuk meraih kemajuan hidup, berdasarkan kemandirian dan tetap bergantung kepada karunia Allah SWT.

Berkenaan dengan cara hidup qona’ah, marilah kita simak nasehat Nabi SAW kepada hakim sahabat beliau yang segala permohonannya selalu diluluskan, tetapi kali berikutnya Nabi menasehatinya.

Artinya: “Wahai hakim sesungguhnya harta itu indah dan manis, barang siapa yang mengambilnya dengan hati yang lapang dan ikhlas niscaya berkah baginya, akan tetapi barang siapa yang mengambilnya dengan hati yang tamak atau rakus, pasti harta itu tidak berkah baginya. Bagaikan orang yang makan yang tidak pernah kenyang-kenyangnya ketahuilah bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.

Oleh karena itu qona’ah adalah merupakan sikap hati dan mental yang memilikinya diperlukan latihan dan kesabaran. Bila qona’ah dimiliki oleh seseorang niscaya kebahagiaan dunia akan dinikmati dan kebahagiaan akhirat akan tercapai.

Manfaat qona’ah dalam kehidupan:

  1. Bagi kehidupan pribadi:
    1. Percaya akan kekuasaan Allah SWT
    2. Sabar dalam menerima ketentuan Allah SWT
    3. Bersyukur bila dipinjami nikmat Allah SWT
    4. Berusaha bekerja, berikhtiar dan berdo’a serta tawakal
    5. Bagi kehidupan masyarakat:
  2. Mengajak tidak membanggakan diri dengan kekayaan sebab akan menimbulkan kecemburuan sosial
  3. Membina rasa puas dengan nikmat yang dikaruniakan Allah SWT
  4. Menjauhkan sifat rakus dan tamak, hingga akan terhindar dari kehendak untuk mengambil hak orang lain

Dengan demikian, qona’ah adalah salah satu sikap terpuji yang harus dimiliki oleh setiap orang muslim, yaitu sikap rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki serta menjauhkan diri dari sikap tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan

Orang yang qona’ah adalah orang yang selalu giat bekerja dan berusaha, namun apabila hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ia tetap bersikap positif yaitu rela menerima apa yang dihasilkannya dengan penuh rasa syukur dan lapang dada.

Qona’ah berfungsi sebagai stabilisator dan dinamisator hidup seorang muslim. Dengan qona’ah seorang muslim akan bersikap positif terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepadanya, akan terhindar dari sifat-sifat tercela, serakah dan putus asa, serta akan memiliki semangat hidup untuk meraih kemajuan berdasarkan kemampuan diri dan kemandirian.

  1. Akhlakul Madzmumah
  2. Hasud
  3. Pengertian Hasud

Hasud berarti membangkitkan hati seseorang supaya marah (melawan, memberontak, dan sebaginya). dalam bahasa Arab disebut hasad yang berarti dengki, sebagai wujud dan akibat rasa iri. Dengan demikian Hasud sama dengan hasad. Orang yang suka berbuat Hasud disebut provokator. Sudah pasti sifat ini amat tercela, baik dalam pandangan Allah maupun sesama manusia.

  1. Hasud adalah penyakit masyarakat

Hasutan yang disebarkan oleh provokator sering menimbulkan gangguan dalam kehidupan masyarakat. Perbuatan anarkis yang berupa pengrusakan toko, rumah dan tempat ibadah bahkan juga pembunuhan. Oleh karena sebab itu, jelaslah kiranya Hasud merupakan penyakit dalam kehidupan bermasyarakat, karena menimbulkan kerusakan dan kerugian yang tidak sedikit jumlahnya. Selain merusak tatanan kehidupan bermasyarakat, hasud juga berakibat buruk bagi pelakunya sendiri.

  1. Ria
  2. Pengertian Ria

Ria adalah pamer, yakni berbuat baik dengan maksud ingin memperoleh pujian orang lain. Hal ini tidak sesuai dengan ajaran Islam.

Islam mendidik umatnya agar melakukan amal baik secara ikhlas, yakin karena Allah. Semata – mata Yang dimaksud karena Allah semata-mata ialah:

  1. Melakukan amal baik karena ingin memperoleh ridha Allah SWT
  2. Melakukan amal baik karena mentaati perintah Allah SWT

Amal baik yang dilakukan dengan maksud tidak seperti di atas, dinyatakan tidak memperoleh pahala

  1. Ria Merusak amal baik

Allah SWT berfirman:

 

 

 

 

 

 

“Hai Orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena ria kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu tertimpa hujan lebat, lalu menjadilah ia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada, orang-orang yang kafir.” (QS. Al Baqarah: 264)

  1. Aniyaya
  2. Pengertian aniyaya

Aniyaya berarti perbuatan bengis, seperti penyiksaan, penindasan, dan sebagainya. Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah di muka bumi yang harus berbuat baik terhadap siapapun, bahkan juga terhadap makhluk selain manusia.

Allah SWT berfirman

 

 

 

 

 

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan kepada kaum kerabat dan Allah melarang (kamu) berbuat keji, Munkar, dan permusuhan (aniyaya). Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl; 90)

Ayat di atas membuat tiga perintah dan tiga larangan. Tiga perintah yang dimaksud ialah berlaku adil, berbuat baik, dan membantu kerabat. Tiga larangannya ialah berbuat keji (maksiat yang menjerumus perbuatan zina), Munkar (segala perbuatan buruk yang tidak dapat diterima oleh hati nurani), dan permusuhan.

Aniyaya adalah salah satu bentuk perbuatan yang menimbulkan permusuhan sesama manusia. Oleh sebab itu, perbuatan aniyaya wajib dijauhi oleh setiap orang, terutama muslim.

  1. Orang yang teraniyaya memperoleh prioritas dari Allah SWT

Untuk memberikan keadilan kepada manusia Allah SWT memberikan prioritas kepada orang yang dianiyaya bahwa dia tidak berdosa apabila berkata buruk lagi keras.

Firman Allah SWT:

 

 

“Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang di aniyaya. Allah adalah (yang) Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. An-Nisaa’: 148)

Orang yang diperlakukan secara dhalim diperbolehkan membalas kedhaliman tersebut seberat kadar yang ditimpahkan kepada dirinya.

 

 

 

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu, akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An-Nahl: 126)

  1. Bahasa perbuatan aniyaya
  2. Bagi orang lain

Bahaya perbuatan aniyaya bagi orang lain tergantung pada tingkat aniyaya yang ditimpakan pada dirinya. Sekurang-kurangnya menimbulkan kekecewaan atau sakit hati pihak lain (yang dianiyaya)

  1. Bagi pelakunya sendiri

Perbuatan aniyaya menimbulkan kegelapan bagi dirinya di hari kiamat

Rasulullah SAW bersabda:

“Kedhaliman adalah beberapa kegelapan di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Jagalah dirimu dari kedhaliman, karena dhalim adalah beberapa kegelapan di hari kiamat.” (HR. Muslim)

Yang dimaksud kegelapan di hari kiamat adalah dosa yang memberatkan penderitaan seseorang di hari kiamat. Mungkin seseorang masih dapat menyelamatkan diri dari akibat perbuatan dhalim di dunia ini, tetapi tidak demikian halnya di akherat kelak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Oleh karena itu masyarakat prasarat untuk berdirinya suatu negara. Tujuan dibentuknya suatu negara ialah agar seluruh keinginan dan cita-cita yang diidamkan oleh warga negara yang dapat diwujudkan dan dapat dilaksanakan. Anggota masyarakat suatu negara adakalanya mempunyai latar belakang budaya dan agama yang sama, dan ada pula yang terdiri atas budaya dan agama yang beragam. Dalam membentuk negara yang baik, beragamnya budaya bukanlah merupakan persoalan. Karena keberadaan latar belakang budaya tidak akan menghambat suatu masyarakat untuk membangun negaranya. Bahkan dengan adanya perbedaan tersebut semakin memperkaya perbendaharaan pemikiran dan pengetahuan suatu masyarakat. Kunci keberhasilan suatu negara terletak pada kedisiplinan berupa kesetiaan dan kesungguhan warga negaranya melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing. Berkaitan dengan hal di atas maka di negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, sudah selayaknya jika umat Islam mempelopori meningkatkan disiplin nasional dalam bentuk mematuhi segala peraturan perundang-undangan yangberlaku, sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing-masing.

Demikian makalah ini dibuat,kami sadar masih bannyak kekurangan yang ada dalam makalah ini. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan makalah ini selanjutnya.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ali, M. Daud. 1998. Pendidikan Agama islam. PT RajaGrafindo Persada : Jakarta

  1. Ahyadi. 2009. Bahan Kuliah PAI. Sumedang: PG PAUD STKIP UNSAP.

Muhammad Nur. 1987. Muhtarul Hadis. Surabaya: Pt. Bina Ilmu.

Miftah Faridl. 1995. Pokok-pokok Ajaran Islam. Bandung: Penerbit Pustaka.

Syed Mahmudunnasir. 1994. Islam, Konsepsi dan Sejarahnya. Bandung: Rosdakarya.

Subki. A’la. Junaidi dkk. Akidah akhlak, gema Nusa. Klaten utara, 2008

Tim dosen PAI UB. 2010. Pendidikan Agama islam. Percetakan Citra Mentari : Malang

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

By Acehmillano Ganto Posted in MAKALAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s