KARAKTERISTIK VARIASI BAHASA IDIALEG DAERAH ACEH BESAR DAN SIMEULUE


BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang Masalah Penelitian

Bahasa mempunyai fungsi yang sangat penting bagi manusia, terutama fungsi komunikasi. Bahasa merupakan alat interaksi sosial atau alat komunikasi manusia. Dalam setiap kegiatan, bahasa dapat memberikan informasi yang berupa pikiran, gagasan, maksud, perasaan maupun secara langsung.

Komunikasi adalah penyampaian pesan dan maksud dari seseorang kepada orang lain melalui bahasa. (Chaer, Abdul dan Leonie Agustina, 2010:61) menyatakan,”Timbulnya ragam bahasa atau variasi bahasa disebabkan penutur bahasa dalam masyarakat tutur tidak merupakan kumpulan manusia yang homogen, sehingga wujud bahasa yang konkret, yang disebut parole menjadi tidak seragam. Terjadinya keragaman atau kevariasian bahasa ini bukan hanya penuturnya yang tidak homogen, tetapi juga karena kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat beragam. Setiap kegiatan memerlukan terjadinya keragaman bahasa itu. Keragaman ini pun akan bertambah kalau bahasa tersebut digunakan oleh penutur yang sangat banyak serta dalam wilayah yang sangat luas.”

Variasi bahasa yang timbul karena pemakaian yang berbeda, topik yang dibicarakan berbeda serta medium pembicaraan yang berbeda. Pemakai tersebut ialah orang atau penutur bahasa yang bersangkutan. Variasi bahasa yang didasarkan pada pemakainya disebut dialek. Pendapat Halliday berbeda dengan konsep pemakai bahasa yang dikemukakan dalam buku karya Mansoer Pateda. Tekanan diletakkan pada penutur, bukan bahasa yang dituturkan. Maka mengkaji variasi bahasa dalam hubungannya dengan masyarakat digunakan kajian bahasa secara eksternal.

Terjadinya ragam ujaran di masyarakat, selain karena dipengaruhi faktor perbedaan geografis, latar belakang sejarah, budaya juga disebabkan oleh perbedaan sosial seperti status sosial, tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin dan lain-lain.Perbedaan-perbedaan ini menyebabkan terjadinya variasi bahasa (Aslinda dan Leni Syafyahya, 2007: 17). Misalnya kita mengunjungi suatu tempat seperti pelabuhan atau pasar, kita akan mendengar pemakaian bahasa yang bervariasi. Penyebab adanya variasi bahasa tersebut bukanlah lokasi tetapi disebabkan adanya perbedaan tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan. Akan tetapi, Alwasilah (1989:65) menyatakan, meskipun para penutur memakai bermacam-macam bentuk bahasa yang berbeda, tetapi bentuk-bentuk itu merupakan satu bahasa yang sama, misalnya dialek. Bagaimana untuk mengetahui adanya ragam bahasa dan tingkatan sosial masyarakat, tentunya kajian penggunaan bahasa ini akan dianalisis secara eksternal.

Kajian mengenai hubungan antara tingkat sosial dan penggunaan bahasa yang pernah dilakukan, misalnya oleh C. R. J Ross tahun 1956 yang menemukan adanya perbedaan ucapan, perbedaan tatabahasa, dan pilihan kata dari ragam bahasa Inggris lapisan atas (upper class) dan yang bukan lapisan atas (nonupper class). Seolah-olah tingkat dan kedudukan sosial seseorang di tengah masyarakat turut menciptakan perbedaan atau variasi bahasa.

Berdasarkan uraian di atas, dikorelasikan dengan masalah penelitian yang akan diteliti yaitu mengenai bahasa seseorang atau ciri khas yang dimiliki oleh seorang individu dalam menggunakan bahasa yang disebut idiolek.

  • Rumusan Masalah Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah penelitian diatas, penulis membuat  beberapa pertanyaan masalah penelitian berikut ini.

  1. Bagaimanakah karakteristik variasi bahasa idialek daerah Aceh besar dan semelu
  • Tujuan dan Manfaat Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan memperoleh deskripsi dan pemahaman mengenai hal-hal berikut.

  1. Untuk mengetahui penggunaan variasi bahasa khususnya idiolek daerah Aceh besar dan semelu

1.3.2        Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang kajian sosiolinguistik dalam menganalisis perubahan variasi bahasa (idiolek) dalam berkomunikasi, pengaruh perbedaan daerah menimbulkan variasi bahasa/idiolek khususnya pada penggunaan Bahasa Indonesia, dan pengaruh dialek suatu wilayah terhadap idiolek seseorang. Manfaat lainnya adalah sebagai sumbangan dalam memperkaya pengetahuan tentang bahasa, variasi bahasa, dan perkembangan bahasa yang hidup pada masyarakat .

BAB II

LANDASAN TEORI

Kata sosiolinguistik merupakan gabungan dari kata sosiologi dan linguistik. Sosiologi adalah kajian yang objektif dan ilmiah mengenai manusia dalam masyarakat dan mengenai lembaga-lembaga serta proses sosial yang ada di dalam masyarakat (Chaer dan Agustina, 1995:3). Linguistik adalah ilmu bahasa atau bidang yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Dengan demikian sosiolinguistik merupakan bidang ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa di dalam masyarakat (Aslinda dan Leny Syafyahya, 2007: 6).

Sosiolinguistik memandang bahasa sebagai sistem sosial dan sistem komunikasi, serta merupakan bagian dari masyarakat kebudayaan tertentu, sedangkan yang dimaksud dengan pemakaian bahasa adalah bentuk interaksi sosial yang terjadi dalam situasi konkret. Dengan demikian, dalam sosiolinguistik bahasa tidak dilihat secara internal, tetapi dilihat sebagai sarana interaksi/ komunikasi di dalam masyarakat.

Dalam masyarakat, seseorang tidak lagi dipandang sebagai individu yang terpisah, tetapi sebagai anggota dari kelompok sosial. Oleh karena itu, bahasa dan pemakaiannya tidak diamati secara individual, tetapi dihubungkan dengan kegiatannya dalam masyarakat atau dipandang secara sosial. Dipandang secara sosial, bahasa dan pemakaiannya dipengaruhi oleh faktor linguistik dan faktor nonlinguistik.

Faktor linguistik yang memengaruhi bahasa dan pemakaiannya terdiri dari fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Selain itu, faktor nonlinguistik yang memengaruhi bahasa dan pemakaiannya terdiri dari faktor sosial dan faktor situasional. Faktor sosial yang memengaruhi bahasa dan pemakaiannya terdiri dari status sosial, tingkat pendidikan, umur, jenis kelamin dan lain-lain. Faktor situasional yang memengaruhi bahasa dan pemakainya terdiri dari siapa yang berbicara, dengan bahasa apa, kepada siapa, di mana dan masalah apa (Fishman dan Suwito dalam Aslinda dan Leni Syafyahya, 2007:6).

Variasi bahasa adalah bentuk-bentuk bagian atau varian dalam bahasa yang masing-masing memiliki pola yang menyerupai pola umum bahasa induknya (Poedjosoedarmo dalam Suwito, 1982:20). Hartman dan Stork (Chaer dan Agustina, 1995:81) membedakan variasi bahasa berdasarkan kriteria (a) latar belakang geografi dan sosial penutur, (b) medium yang digunakan, dan (c) pokok pembicaraan.

Halliday (Aslinda dan Leni Syafyahya,2007:17) membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakaian yang disebutnya dengan dialek dan register. Rumusan yang hampir sama dinyatakan oleh Alwasilah (1985:66) meskipun para penutur memakai bentuk-bentuk yang berbeda, tetapi bentuk-bentuk itu merupakan satu bahasa yang sama, misalnya idiolek, dialek sosiolek, dan register/style.

Idiolek merupakan variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Menurut konsep idiolek, setiap orang mempunyai variasi bahasanya atau idioleknya masing-masing. Variasi idiolek ini berkenaan dengan warna suara, pilihan kata, gaya bahasa, susunan kalimat, dan sebagainya. Warna suara yang paling dominan, karena warna suara, kita dapat mengenali suara seseorang yang kita kenal hanya dengan mendengar suara tersebut.

Idiolek menurut Bloch yang dikutip oleh C.A. Gumperz dalam J.P.B Allen (Ed.) 1973 : 92 (Pateda, 1987:57) mengatakan bahwa idiolek adalah :

“the totality of the possible utterances of one speaker at one time in using the language to interact with one speaker”

Meskipun bahasa sama, tetap akan diujarkan berbeda oleh setiap pembicara (= penutur), baik yang berhubungan dengan aksen, intonasi, dan sebagainya.

Dikorelasikan dengan masalah penelitian yang akan diteliti yaitu mengenai bahasa seseorang atau ciri khas yang dimiliki oleh seorang individu dalam bertutur yang disebut idiolek.

Adapun faktor-faktor idiolek diantaranya yaitu:

  1. Tempat tinggal

Seseorang yang tinggalnya di tepi pantai mempunyai warna suara yang berbeda dengan seseorang yang tinggal jauh dari pantai. Begitupun seseorang yang tinggal di kota ataupun di desa. Karena faktor gemuruh ombak dan kendaraan yang lalu lalang menyebabkan mereka harus berbicara dengan nada yang tinggi.

  1. Lingkungan

Seseorang yang tinggal di lingkungan baru akan meniru idiolek orang lain atau lingkungan tersebut secara tidak sadar. Misalnya seseorang yang berasal dari Jawa tinggal di lingkungan Sunda ketika bertutur akan terlihat kejawa-jawaannya.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1    Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif analitis. Heryadi (2010: 42) mengemukakan penelitian deskriptif adalah penelitian yang bermaksud untuk menggambarkan mengenai situasi atau kejadian-kejadian suatu subjek yang mengandung fenomena. Penelitian dengan menggunakan metode ini lebih bersifat survey yang mengakumulasi data dasar dari suatu subjek, kemudian membahas data itu secara analitik hingga menemukan jalan keluar untuk fenomena yang ada dalam subjek itu.

Prosedur atau tahapan penelitian dengan menggunakan metode deskriptif analitis adalah sebagai berikut.

  1. Memiliki permasalahan yang cocok dengan metode deskriptif analitis
  2. Menyusun instrumen atau rambu-rambu pengukuran
  3. Mengumpulkan data
  4. Mendeskripsikan data
  5. Menganalisis data
  6. Merumuskan simpulan.

3.2 Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah data hasil wawancara yang dikumpulkan berupa percakapan antara aceh besar dengan simeulue. sumber data akan di ambil dikhususkan dari perolehan percakapan antara kedua daerah.

3.3  Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini ialah wawancara dengan mahasiswa, daerah Aceh besar dan semelu, serta pengumpulan dokumentasi dalam bentuk tabel perbedaan percakapan antara dua daerah daerah Aceh besar dan semelu. Teknik pengamatan terhadap mahasiswa daerah Aceh besar dan semelu. dilakukan sebagai bekal awal dalam melakukan penelitian dengan menyaksikan proses percakapan yang dilakukan dengan mahasiswa kedua daerah. Proses selanjutnya dilakukan proses wawancara dengan masing-masing daerah tersebut untuk mengetahui proses berbahasa dan karakteristik  variasi bahasa. Kemudian dilakukan pengumpulan dokumentasi percakapan dalam bentuk tabel perbedaan berbahasa mahasiswa daerah Aceh besar dan semelu.

3.4  Teknik Analitis Data

Teknik analisis data dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu:

  1. Tahap Transkripsi

Tahap transkripsi adalah tahap pengalihan tuturan (yang berwujud bunyi) ke dalam bentuk tulisan; penulisan kata, kalimat, atau teks dengan menggunakan lambang-lambang bunyi. Tahap ini merupakan tahapan yang memunculkan tentang data-data yang telah diperoleh berkaitan dengan variasi bahasa terhadap idiolek bahasa mahasiswa daerah Aceh besar dan semelu.

  1. Tahap Klasifikasi Data

Tahap klasifikasi data adalah penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan. Tahap ini mengklasifikasikan data-data yang telah diperoleh berkaitan dengan idiolek seseorang dan seberapa besar pengaruh tempat tinggal atau lingkungan  terhadap idiolek kedua daerah tersebut.

  1. Tahap Penulisan Hasil Penelitian

Tahapan ini merupakan pemaparan hasil penelitian yang telah diolah melalui tahap transkripsi dan tahap klasifikasi data. Akan diperoleh suatu pemaparan dari hasil penelitian.

  1. Tahap Simpulan

Tahapan ini merupakan tahap akhir dari proses penelitian yang dilakukan, bertujuan untuk menyimpulkan data yang diperoleh di lapangan. Sehingga dapat disimpulkan, penelitian yang kami lakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variasi bahasa (idiolek) terhadap ragam bahasa mahasiswa daerah Aceh besar dan semelu.

3.5 Hasil Penelitian

Hasil analisis dari percakapan ini dapat saya simpulkan dalam bentuk bahasa metabahasa,  Yaitu analisis bahasa dinyatakan dengan bahasa.

Tabel Hasil Analisis Data Percapakan Dalam Bahasa Aceh Besar

No Kata Dalam Bahasa Aceh Bahasa Indonesia
1

2

3

4

Bungoh

Plok

Sareng

Semalun

Pagi

Gelas Plastik

Saringan

Merajok

Tabel Hasil Penelitian Data Percakapan Dalam Bahasa Simeulue

No Kata Dalam Bahasa Simeulue Bahasa Indonesia
1

2

3

4

Melafek

Galeh

Tapes

Mamahuik

Pagi

Gelas Plastik

Saringan

Merajok

DAFTAR PUSTAKA

Aslinda dan Leni Syafyahya. 2007. Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: Refika    Aditama.

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. (2010). Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta:       PT. Rineka Cipta.

Pateda, Mansoer. 1987. Sosiolinguistik. Bandung: Angkasa

By Acehmillano Ganto Posted in MAKALAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s