KURIKULUM 1998 – 2004


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Ada adigum yang tak mempesona tetapi terlajur melekat pada dunia pendidikan kita; Ganti Menteri Ganti Kurikulum. Sehingga setiap kali terdapat pergantian kuriulum atau setidaknya perubahan kurikulum, masyarakat selalu menanggapi dengan nada minor. Begitupun ketika mereka mendengar akan diberlakuakan kurikulum 2006 pada tahun pelajran baru 2006/2007. Mereka mereka masih menyambutnya dengan nada relative sama.

Alasan yang peling mendasar, selama ini telah tujuh kali terjadi pergantian kurilkulum. Sayangnya hal itu tidak terlalu memiliki dampak peningkatan kualitas siswa didik dan dunia pendidikan itu sendiri. Alasan lainnya, bahwa dengan kurikuum baru tentu saja akan berganti buku baru pula. Dan itu berarti secara otomatis orang tua harus mengeluarkan uang buat pembelian buku tersebut. Apalagi kurikulum 2004 atau yang lazim Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), telah diujicobakan sejak tahun 2001. Dan kurikulum tersebut hingga kini masih belum secara resmi diberlakukan, tetpai justru kini akan digantikan dengan kurikukum 2006.

Padahal selama ini, bayak sekali sekolahdan madrasah yang masih melaksanakan Kurikulum 2004 terebut diatas kertas saja. Konkritnya, secara tertulis mereka menggunakan Kurikuklum 2004 tetapi ternyata secara praktek lapangan mereka masih menggunakan methode pembelajaran kalsik atau tradisional. Bahkan pemahanan bahwa buku ajar bukanlah satu-satunya sumber pelajaran, masih belum bisa mereka aplikasiakan secara baik. Tak sedikit guru yang belum mampu menjadi motivator pendidikan, yang dapat merangasng peserta didik untuk mencari dan menganalisa informasi dari berbagai sumber-sehingga proses pembelajaran berlangsung aktif.

Hal ini yang menyebabkan sulitnya pelaksanaan Kurkulum Bernasis Kompetensi, adalah masih banyak guru yang menempatkan sebagai “Pekerja Kurikulum”. Mereka terbiasa dengan mengikuti apa yang sudah digariskan pemerintah dalam kurikulum. Padahal dalam KBK, guru sangat diharapkan agar lebih berperan senagai pengembang kurikulum. Fenomena secara ilmiah inilah yang membuat banyak pihak menjadi serba bertanya-tanya; Klaau kurikulum 2004 sejak pelaksanaannya masih terbata-bata semacam ini, kenapa justru akan digantikan denan kurukulum yang baru?

Makalah ini mencoba untuk sedikit menggunakan kesalahpamahan tersebut. Kesalahpahaman mendasarnya terletak pada angapan, bahwa kurikukum 2006 adalah sebagai pengganti kurikulum 2004. Padahal sesungguhnya, yang terjadi bukanlah demikian. Anggapan tersebut meleset dari yang dikirakan.

Yang perlu dipahami bahawa kurikulum 2006 tersebut bukanlah pengganti kurikukum 2004, melainkan merupakan tindak lanjut dari tugas BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) dalam menyusun standart isi pendidikan

Dengan kata lain, Kurikulum 2006 tersebut hanyalah sebagai standarisasi saja, agar sekolah dan madrash memiliki acuan secara lebih jelas.

Adanya kurikulum 2006 merupakan langkah lanjut atau hasil kajian tentang kelemahan-kelemahan yang ada di KBK. Teori KBK yang terkesan muluk-muluk harusnya lebih dibumikan, sesuai kondsi di lapangan. Jika tidak demikian tentu dunia pendidikan hanya akan berhenti pada tataran konsep semata. Maka rumusan-rumusan yang dituangkan dalam Kurikulum 2006, benar-benar merupakan jawaban atas kebutuhan pendidikan yang ada.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Pengertian KBK

Pusat Kurikulum Badan Penelitian dan Pengembangan Diknas (2002), mendefinisikan KBK merupakan seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah KBK adalah kurikulum yang dikembangakan berdasarkan kompetensi (keahlian) tertentu, yang dimungkinkan esensial untuk dimiliki siswa untuk melakukan suatu kegiatan (pekerjaan, jabatan atau karier) tertentu. Dengan demikian pengembangan kurikulum menyangkut berbagai aspek, mulai sekedar daftar mata pelajaran secara utuh dan evaluasi untuk mengetahui bahwa tujuannya dapat di capai.

Jadi suatu kompetensi adalah suatu pernyataan tentang apa yang sepantasnya dapat dilakukan siswa secara terus menerus (tetap) dalam suatu kajian atau mata pelajaran pada suatu tinkat tertentu. Dengan demikian KBK merupakan satu pergeseran dan penekanan dari isi (Apa yang tertuang) ke kompetensi (BAGAIMANA harus berfikir, belajar, dan melakukan) dalam kurikulum. Oleh karena itu guru dan siswa digarapkan dapat mengetahui apa yang harus DICAPAI da seharusnya EFEKTIVITAS belajar yang telah DICAPAI.

  1. B.     Karakterstik?Ciri-ciri KBK
  2. Meletakkan pada ketecapainya kompetensi siswa baik secara individu maupun klasikal.
  3. Berorientasi pada hasil belajar dan adanya keberagaman.
  4. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan methode yang bervasiasi
  5. Penilaaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.
  6. C.    Landasan dan Prinsip Pengembangan KBK

Sesuai dalam jiwa otonomi dalam pendidikan Seperti peraturan Pemerintah No.25 tahun 2000, bidang pendidikan dan kebudayaan, Pemerintahmemeiliki wewenang menetabkan (1) Standart Kompetensi Siswa dan warga belajar serta pengaturan kurikulum nasional dan penilaian hasil belajar secara nasional serta pedoman pelakasanaananya, dan (2) Standart Materi Pembelajaran Pokok. Pelakasanaan PP Nomer 25 tahun 2000 memberi peran Pada daerah dan sekolah dalam peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan dan terarah sereta menyeluruh .

Penerapan disentralisasi pendidikan dalam bidang kurikukum menggunakan konsep”Kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan”

Prinsip-prinsip Kegiatan Belajar Mengajar yang dikembangkan menurut KBK antara lain:

  1. Berpusat pada siswa
  2. Belajar dengna melakukan
  3. Mengemabngakankemampuan social
  4. Mengembangkan keingin tahuan,m imajinasi, dan fitrah ber-Tuhan
  5. Mengembangkan kerampilan pemecahan masalah.
  6. Mengembangkan kreatifitas siswa
  7. Mengembangan kemampuan menggunakana ilmu da tehnologi
  8. menumbuhkan kesadaran sebagai warga Negara yang baik.
  9. belajar sepanjang hayat.
  10. D.    Implementasi KBK dalam Proses Pembelajaran

Misi KBK akan tercapai jiwa proses pembelajaran tidak menggunakana pendekatan yang selama ini digunakan yaitu pendekatan yang berpusat pada guru: Guru aktif mengajar (mentrasfer pegnetahuan) siswa, sedangkan siswa menerima secara pasif. Misi akan tercapai jika ada perubaahan dalam prsktik pembelajaran. KBK hanyalah salah satu komponen dalam pembelajaran dan bukan komponen terpenting. Koponen yang lebih penting adalah guru (Karakteristiknya, kompetensinya, dan unjuk kerjanya) yang bertanggung jawab tentang jalannya proses pembelajaran, dan unjuk kerjanya) yang bertanggungjawab tentang jalannya proses pembelajaran. Untuk itu sebelum melaksanakan proses pembelajaran haruslah dipersiapkan dulu beberapa perangkat pembelajaran. Diantaranya: Skenario pembelajaran dan SKBM.

  1. Skenario pembelajaran:

Pada hakekatnya merupakan perencanaan untuk memproyeksikan atau mengambarkan tentang apa yang akan dilakukan agar indikator hasil belajar dapat tercapai.

Pengembangan Skenario Pembelajaran, mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:

  • Kompetensi/ indicator harus jelas
  • Sederhana, fleksibel dan dapat di implementasikan
  • Kegiatan yang disusun dan dikembangkan harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi.
  • Utuh, menyeluruh, dan jelas pencapaiannya.
  • Ada koordinasi antar komponen.

 

  1. SKB (Standart Ketuntasan belajar Minimum)

Adalah tingkat pencapaian standart kompetensi dan komptensi dasar mata pelajaran oleh siswa per mata pelajaran. Untuk memudahkan dalam proses pencapaian SKBM, maka nilai ketuntasan belajar siswa dinyatakan dalam bentuk bilangan bulat, dengan rentang 0-100, dimana nilai ketuntasan belajar maksimum adalah 100.

Sekolah dapat menetapkan ketuntasan belajar minimum di bawah nilai ketuntasan belajar maksimum (100). Namun sekolah harus merencanakan target dalam waktu tertentu untuk mencapai nilai ketuntasan belajar maksimum.

SKBM ditetapkan oleh guru harus diasumsikan dicapai secara bertahap oleh seluruh siswa pada kelas yang terkait ( termasuk siswa yang memiliki kemampuan rendah) untuk itu, sekolah perlu membuat nilai terendah untuk setiap siswa yang memiliki kemampuan rendah.

Penetapan ketuntasan belajar sekolah yang bersangkutan. Forum guru yang berada di lingkungan sekoalah yang berksangkutan. Akan lebih baik bila melibatkan guru dari sekolah lain yang terdekat (yang telah melaksanakan kurkulum 2004) atau forum uru MGMP kabupaten / Kota setempat.

Berbagai alternative pembelajaran di uji cobakan di sekolah. Berbagai pelatiahn diadakan demi kesuksesan pembelajaran. Ketika suatu methode gagal, methode lain dimunculkan sebagai bentuk alternative penyelesaian. Dengan penggantian kurikulum dari tahun, ketahun menuntut pula renovasi methode yang harus di praktekkan dalam lingkungna akademis.

Berbicara masalah pembelajaran , memang tidak dapat lepas dari guru sebagai pendidik dan siwa sebagai si terdidik. Keberhasilan pembelajaran dalam lingkungan kecil ini terlihat sekali ditentukan guru dan siswa. Namun tak jarang diantara para guru mengalami kegagalan menarik minat siswa untuk mengikuti pemelajaran mereka. Faktor kegagalan ini sebenarnya berasal dari guru itu sediri. Mengapa demikian.

Seorang guru harusnya mengetahui sedikit aspek psikologi anak maupun remaja. Bila awal pertemuan sudah bisa menanamkan rasa senang pada guru selanjutnya siwa akan menyenangi pula yang diajarkan oleh guru tersebut. Ini bukan sekedar teori. Seoran ganak atau siwa yang menyenangi pelajaran bahasa Arab abila gurunya menyenangkan. Seoran gsiswa akan menyenangi pelajaran apa saja, jika gurunya menyenangkan, Nah, bagaimana uapaya guru untuk menyenagkan para siswa?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.       Kesimpulan

Dari uraian diatas sesungguhnya baik KBK maupun KTSP adalah suatu pendekatan yang sangat baik untuk meningkatkan mutu pendidikan. Karen abik KBK maupun KTSP tidak terorientasi pada kualitas materi lainkan lebih berfokus pada kualitas materi yang diperoleh siswa. Untuk itu guru seyogyanya agar lebih kreatif untuk mencapai terobosan-terobosan untuk mengoptimalkan kemmapuan siwa. Pembelajran yang menyenangkan adalah sutu syarat utama yang harus di upayakan, tidak ada yng tidak mungkin, bila kita mau mencobanya. Selanjutkanya yang menjadi pertanyan adalah apakah SDM dalam hal ini para guru sudah siap melakukan perubahan paradigma mengajaranya, dari pengajaran yang berorientasi pada upaya-upaya yang menghabiskan materi kurikulum semata-mata, kepada penhangajaran yang berorientasi kompetensi? Apakah strategi pembelajaran yang di gunakan selama ini masih efektif digunakan untuk menghasilkan kompetensi yang dituntut dalam KTSP dan KBK? Apakah guru-guru sebenarnya sudah faham dengan system KBK dan KTSP? Jawabnya, hanya para guru jualah yang dapat menjawabnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Setyawan Aris, Belajar dan pemeblajran matematika, Madiun, 2007

Nasution, Prof. DR, Pengembangan Kurikulum, Bandung. PT. Citra Aditya Bakti 2005

Sartono Wirodikromo, 2002. Kurkulum Berbasis Kompetensi, Jakarta. Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas.

E. Mulyasa, 2002. Kuriikulum Berbbasis Kompetensi, Bandung. Remaja Rosdakarya.

Negoro, ST, 2006. Impelementasi, KBK dalam Proses Pembelajran Bandung; Pradya Paramita.

Sholeh Ridho. MPA 242. 2006. Pembelajaran Tematik dalam KBK. Surabaya; PT. Antara Surya Jaya.

Nihayatul khoiriyah, 2007 Menciptakan Model Pembelajaran Aktif, kreatis, dan menyenangkan (PKEM) sesuai dengan KTSP Surabaya. PT. Antar Surya Jakarta.

Anik Zuraida. 2005. Sistem PAKEM. Sulitkah diterapkan di sekolah? Bandung. PT. Sianr Wijaya.

By Acehmillano Ganto Posted in MAKALAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s