AGROINDUSTRI


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Kita sepantasnya bersyukur pada Tuhan atas karunianNya yang dilimpahkan kepada bangsa Indonesia berupa daratan yang membentang dari Sabang sampai Mer?uk~ dengan ,luas 1900 juta Ha dan terdiri atas 17800 pulau dan’lebih dari 5700 Ha berupa hamparan lautan nan biru. Keanekaragaman hayati berupa tanaman. hewan, dan r.1ikroba yang tak ada tandingannya didunia selayaknya menjadi modal dasar untuk dilestarikan dan dikembangkan menjadi komoditas atau produk yang bersaing diperdagangan global serta memberi kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Selain itu kurang lebih 70% penduduk Indonesia bergerak dalam usaha pertanian. Kondisi ini merupakan alasan kuat atau pemacu (driver) serta modal kuat bagi tumbuh industri yang berbasis pertanian atau agroindustri.

Dengan lokasi yang terdiri at as pulau besar dan keeil terse but serta di katulistiwa,dan jumlah penduduk yang besar yang dapat merupakan pasar potensial, merupakan modal untuk tumbuhnya industri perhubungan dan industri teknologi informasi dan komunikasi. Gambaran singkat tersebut menyiratkan bahwa untuk pembangunan dan pengembangan industri, Indonesia memiliki modal dasar sangal mendukung. Perkembangan industri tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan warganya. Ketiga industri yang harus dipilih Indonesia yaitu : agroindustri, industri perhubungan ibarat tiang bangunan rumah, dengan fondasi indu$tri per.,Solahan (manufacturing base industry). Sebagai atap bangunan adalah industri teknologi infonnasi dan komunikasi. Secara terkait masing masing industri tersebut akan berperan sebagai Berikut Industri pengolahan akan memasok segal a kebutuhan scktor ekonnomi.

Termasuk agroindustri dan industri perhubungan sehingga berfungsi dalam meinperkuat ketahanan negara. Mesin pertumbuhan ekonomi (engine of growth) bertumpu p&da agroindustri dan industri perhubungan, sedangkan industri informasi dan komunikasi akan memayungi dan memberikan informasi (pasar, komoditas, teknologi, dll). Industri ini diharapkan mempakan pemacu pertumbuhan.

Berdasarkan tamsil bangunan tersebut, konsep pengembanganindustridengan visi pertumlJuhan tinggi (high growth vision) dapat dirancang untuk memajukan Indonesia dengan Iaju pertumbuhan tertentL untuk jangka pendek dan jangka panjang.

Dalam kaitan dengan pengikut kuliah dalam makalah ini bagian agroindustri akan dibahas lebih laniut . Bahasan abn dimulai dengan pengertian agroindustri serta sedikit ilustrasi sejarah dan lingkupnya. Beran dan arti strategis agroindustli akan menjadi bahasan berikutnya dengan didahului tentang globalisasi ekonomi dunia. Arti pentig teknologi dalam peningkatan nilai tambah produk agroindustri merupakan penutup bahasan pertama. Seri-seri bahasan berikutnya akan difokuskan lebih khusus hitan agroindustri dengan aspek lain. Sebagai gambaran Seri Agroindustri 2. akan mempertelakan tentang penerapan bioteknologi pada agroindustri, dan Seri Agroindustri 3 akan membahas tentallg agroindustri pedesaan serta arti penting kemitraan bagi usaha kecil menengah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Perkembangan Agroindustri

Fakta sejarah telah membuktikan bahwa Belanda yang menjajah Indonesia sclama hampir 350 tahun mampu mengaduk hasil bumi Nusantara menjadi komoditas andala’1 yang dapat memasok devisa untuk menopang perkenonoian yang dipimpin oleh ratu Wilhelmina di tanah rendah, Netherlands. Karet, kopi, teh, kina, tembakau, gula serta minyak atsiri dan rempah-rempah adalah contoh produk van Oos/ Indie yang kala itu sangat terkenal didunia.

  • Pengertian dan Lingkup Agroindustri

Meskipun baru dipopulerkan di Indonesia pada tahun 1980-an, agroindustri yang antara lain diartikan sebagai industri yang mengolah hasil pertanian-seperti contoh diatas telah lama dikenal dan diterapkan di Indonesia semenjak zaman penjajahan Belanda abad ke 16. Secara eksplisit pengertian agroindustri pertama kali diungkapkan oleh Austin (1971) yaitu perusahaan yang memroses bahan Ii.abati (berasal dari tanarran ) atau hewani (berasal atau dihasilkan oleh hewan) . Proses yang diterapkan mencakup pengubahan dan pengawetan melalui per!akukan fisik atau kimiawi, penyimpanan, pengemasan dan distribusi. Produk agroindustri ini dapat mempakan produk yang merupakan p.-oduk akhir yang siap dikonsumsi atau digunakan oleh manusia ataupun sehagai rroduk yang merupakan bahan baku industri lain.

Pengertian lebih Iuas dicetuskan dalam Simposium Nasional Agroindustri I yang diselenggarakan oleh Jurusan Tekologi Industri Pertanian, IPB. yaitu sebagai berikut Agroind~stri adalah kegiatan yang memanfaatkan hasil pertanian sebagai bahan baku, merancang dan menyediakan peralatan serta jasa. untuk kegiatan t,ersebut. Agroindustri dengan demikian mencakup Industri Pengolahan Hasil .Pertanian (lPHP), Industri Peralatan dan Mesin Pertanian (lPMP), dan InJustri Jasa Sektor Pertanian (IJSP), Industri Pengolahan Hasil Pertanian (IPHP) dapat dipilah menjadi:

  1. IPHP -Tanaman Pangan termasuk didalamnya adalah bahan pangan kay a karbopidrat, palawija dan hasil tanaman hortikultura,
  2. IPint Tanaman Perkebunan, yaI~g meliputi tebu, kopi, teh, karet, kelapa, kelapa sawit, temba:kau, cengkeh, kakao, v:mili, kayu manis, dan la:n lain,
  3. IPHP -Hasil Hutan yang mencakup produk kayu olahan dan non kayu seperti damar, rotan, tengkawang dan hasil ikutan lain.
  4. IPHP-Perikanan, yang meliputi pengolahan dan penyimpanan ikan dan hasil Jaut segar,pengalengan dan pengolahan, serta hasil samping kuat,
  5. IPHP~ Peternakan yang mencakup ‘tJengolahan daging segar, susu, kulit dan hasil samping lainnya

Industri Peralatan dan Mesin Pertanian dibagi menjadi dua kegiatan, yaitu :

  1. IPMP-Budidaya Pertanian yang mencakup alat dan mesin pengolah lahan ( cangkul, traktor, dam sebagainya ).dan
  2. IPMP -Pengolahan yang meliputi alat dan mesin pengoiahan berbagai komoditas pertanian, misalnya : mesin penggiling padi, medin perontok gabah, mesin pengering, unit pengolah gula, dan sebagainya.

Industri Jast. Sektor Pertanian, terdiri at as :

  1. IJSP -Perdagangan, yang mencakup kegiatan pengankutan, pengemasan serU penyimpanan baik bahan baku maupun produk hasil industri, terutama dari industri pengolahan hasil pertanian,
  2. IJSP .:Konsultasi kegiatannya meliputi segi perencanaan, pengelolaan sampai pad a pengawasan mutu serta evaluasi dan penilaian proyek, 3 dan IJSP-Komunikasi. menyangkut teknologi perangkat lunak yang melibatkan penggunaan komputer serta alat komunikasi modern lainnya.

Pada perkembangan dan wacana lebih lanjut, agroindustri lebih banyak digunakan dalam arti sempit yaitu industri yang mendayagunakan hasil pertanian sebagai bahan dasarnya.

Simposium tersebut dapat dianggap sebagai cikalbakal wacana, diskusi serta pengembangan agroindustri di Indonesia, sampai akhirnya dapat dirumusknn selJagai strategi pembangunan nasional dalam GBHN 1993 (Anonim, 1993) Definisi lain diberikan oleh Dominguez dan Andriano (1994) yang merupakan kegiatan yang salinghubung (interelasi) produksi, pengolahan, pengangkutan, penyimpanan, pendanaan, pemasaran, dan distribusi produk pertanian. Dari pandangan para pakar sosial-ekonomi, agroindustri ( pengolahan hasil pertanian ) merupakan bagian dari enam suo-sistem agribi.snis)ang disepakati, yaitu sub-sistem penyediaan sarana produksi tlan peralatan, usaha tani, pengolahan hasil, pemasaran, sarana dan pembinaan (Anonim, 1995).

  1. B.     Peranan Agroindustri dalam Perekonomian Indonesia

Berdasarkan pengertian serta lingkup agroindustri diatas, serta latarbelakang sosial ekonomi dan geogratis Indonesia, agroindustri dapat diharapkan mcnjatli sub-sc,ktor industri :yang strategis. Pengembangan agroindustri dihrapkanterjadi peningkatan nilai tambah hasil pertanian yang secara komparatif Indonesia merupakan penghasil utama komoditas pertanian penting.

Nilai strategis agroindustri juga terletak pada poslsmya sebagai jembaian yang menghubungkan antara sektor pertanian pada kegiatan huJu dan sektor industri pada sektor hilir.Dengan pengembangan agroindustri secara tepat dan baik diharapkan dapat ditingkatkan

  1. jumlah tenaga kerja,
  2. pendapatan petani,
  3. volume ekspor dan devisa yang diperoleh,
  4. pangsa pasar baik domestik maupun internasional,
  5. nijai tukar produk hasil pertanian, dan
  6. penyediaan bahan baku industri Penduduk Indonesia yang bekerja di sektor pertanian mencapai sekitar 60% dari tenaga kerja yang ada, sedangkan di sektor industri pengolahan.

10 %, sektor perdagangan 14,6%, sektor jasa 12,0% dan lain lain 7,4 %. Dengan demikian dari aspek sosial ekonomi perkembangan agroindustri dan agribisnis diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan sebagian besar penduduk tersebut. Dalam pembangunan dan pengembangan agroindustri memasuki abad 21 ini tidak dapat dilepaskan dari globalisasi ekonomi dan perdagagan yang sedang melanda di Indonesia, Paragraf berikut mengungkap globalisasi ekoncmi dan pengaruhnya terhadap peran dan prospek agroindustri Indonesia.

  1. C.    Globalisasi Ekonomi Dunia

Proses transfonnasi global yang dewasa ini sedang berlansung pada dasarnya digerakkan oleh tiga kekuatan besar, yaitu perdagangan, investasi, dan produksi. Dengan kata lain, pengertian globalisasi bukan hanya menyangkut arus perdagangan bebas memasu’ki pasar di “eluruh dunia sebagai akibat dari penurunanan dan penghapusan tarif, tetapi juga tennasuk globalisasi di bidanh investasi dan produksi maupun teknologi. Ketiga faktor diatas mempunyai kaitan yang erat dan saling menunjang. Selamjutnya, meningkatnya arus perdagangan akan mendorong peningkatan dan mobilitas investasi. Peningkatan investasi tidak hanya akan mendorong penggunaan teknologi, tetapi juga mendorong inovasi dan invensi ( penemuan ) proses dan atau produk baru, (Porter 1992)

Peningkatan investasi dan produksi akan berdampak pada peningkatan kesempatan kerja yang pada gilirannya akan mendorong meningkatnya pendapatan masyarakat. Sehingga secara keseluruhan diharapkan tCljadi pcningkatan pula kesejahteraan masyarakat.

Dalam salah satu kajian yang dilakukan oleh Sekretariat GATT ( Anonim, 1(96). diprakirakan bahwa pada tahun 2005 perdagangan dunia akan meningbt sebesar 12% atau senilai US$ 745 milyar. Dalam kaitan dengan ekspor Indonesia ke:taikan terbesar akan teIjadi pada produk pakaian jadi (60%), tekstil (34%), pertanian (20%) dan prvdul olahan agroindustri (19 %).

Sedangkan Bank: Dunia juga memprakirakan bahwa pada tahun 2010, sekitar ::; 8% pertumbuhan produksi dunia akan dihasilkan oteh negara-negara sedang berkembang. Dalam kurun tersebut, diduga pertumbuhan produksi dunia meningkat dari 21% menjadi 27%, dan perkembangan paling pesat akan terjadi dikawasan Asia Pasitik, terutama Asia Timur dan Tenggara (Anonim. 1997)

Dengan dasar anggapan bahwa kajian kajian tersebut diatas tak jauh menyimpang, maka Indonesia yang tennasuk dalam negara Asia Pasifik dan saat sebelum krisis pernah mencapai tingkat pertumbuhan yang cukup bagus (7-10%), dan diharapkan terjadi perbaikan kinerja pemerintahan baru. (baca : setelah era Reformasi ) harus dapat menempatkan tantangan dan persaingan global tersebut menjadi pemieu untuk memajukan perekonomian nasional. Globalisasi produksi dan industri adalah kemampuan menempatkan alur proses produksi dari pembu~tan k?mponen atau bahan. baku ke. perakitan ~tau pengolah~n produk akhlr ke lokasl lokasl atau negara yang paling menguntungkan dl kawasan duma Proses produksi yang semula dilakukan secara terpadu di suatu tempat atau negara, dalam er;a.giobalisasi dapat dan mungkin dipecah dan disebar ke seluruh penjujru dunia, menurut’ pola yang secara keseluruhan mampu memberikan tingkat efisiensi paling optimal.

Globalisasi produksi akan semakin mempercapat proses pengalihan ( transformasi ) strukturai melalui pengembangan. teknologi baru dan tingkat penyebaran pemanfaatannya (rate of diffusion ). Melalui proses keterkaitan dengan perdagangan dan investasi, pengembangan teknologi akan mampu menciptakan produk-produk dan pross barn serta berpengaruh terhadap perubahan di bidang kelembagaan, organisasi, dan sistem manajemen (Raillon, 1996).

Apalagi biladilihat bahwa hampir sebagian besar dari laju pertumbuhan prcduksi global-akan dipasok dari negara berkembang.. Pang!;a pasar hasil pertanian dan produk agroindustri masih amat sangat besar. Tentu saja, Indonesia dituntut untuk mampu mengembangkan sumberdaya pertanian lokal -keunggulan komparatif -agar dapat dihasilkan produk agroindustri yang kompetitif di pasar global. Dalam pengertian kompetitif tidak hanya menyangkit jumlah dan mutu, tetapi juga harga serta waktu penyampaian dan kelembagaan perdagangan internasional yang praktis ( Mangunwidjaja, 1998).

Dalam kaitan dengan strategi penciptaan keunggulan kompetitif pada sumberdaya komparatif, pengembangan agroindustri melalui penerapan teknologi proses mempunyai arti penting. Dalam penerapan dan pengembangannya harus dilakukan pemilihan secara nasionaL Berdasarkan proses pemilihan ini akan diperoleh sejumlah komoditas unggulan Indonesia. Komoditas inilah yang harus di kembangkan secara tepat sasarap antara lain dengan penerapan proses, baik secara sederhana maupun canggih seperti proses bioteknologis.

  1. D.    Potensi Dan Pengembangan Agroindiustri Di Indonesia

Sumberdaya pertanian di Indonesia merupakan salah satu keunggulan yang secara sadar telah dijadikan salah satu pilar pemgangunan dalam bentuk agroindustri, haik pada era orde baru, reformasi dan saat ini Dalam GBHN 1999-2004 pun ditegaskan bahwa salah satu strategi pembagunan industri adalah industri yang berbasis sumberd~ya lokal. Salah satu diantaranya adalah agroindustri ( Anonirn, 1999 ). Perkembangan agroindustri dapat diJihat dari tiga peri ode, yaitu sebelum kri~is moneter tabun 1997, selama krisis, dan pasca krisis (1999 -sekarang).

  • Perkembangan agroindustri pra krismon

Sebelum terjadi krisis moneter tahun 1997. perkembangan agroindustri di berbagai cabang industri cukup menggembirakan. lumlah perusahaan agroindustri dan penyerapan tenaga kerja selama Pelita VI terus meningkat masing-masing dengan rataan 6,41 dan 9 44% per tahun. Demikian pula kinerja ekspor produk agrQindustri meningkat tajam s~lama tiga tahun terakhir sebelum krisis, yaitu dari USD 1,65 miiyar (1995) menjadi 239 milyar (1997) atau dengan rataan pertumbuhan 22, 4% per tahun. Ekspor tersebut didominasi oleh kelompok produk olahan kelapa dan kelapa sawit, hasil perkebunan (kakao, biji jambu mete). hasil tanaman pangan, serta produk peternakan dan perikanan.

Perkembangan selama krisis Selama masa krisis, walaupun sektor lain mengalami kemunduran atau pertumbuhan negatif, agroindustri mampu bertahan daJam jumlah unit usaha yang beroperasi,  meskipun dari aspek tenaga kerja dan nilai ekspor terjadi penurui1an, yaitu masingmasing -30,16 dan -17,17 %. Kelompok agroindustri yang tetap mengalami pertumbuhan antara lain yang berbasi; kelapa sawit, pengolahan ubi kayu, industri pengolahan ikan. Kelompok agroindustri ini dapat berkem,b.ang dalam keadaa!1 krisis karena tidak tidak tergantung pada bahan baku dan bah,an tambahan impor serta pe)uang pasar ekspornya juga tetap besar. Sedangkan kelompok agroindustri yang tetap dapat bertahan pada masa krisis adalah industri mie, pengolahan susu, dan industri tembakau yang disebabkan oleh peningkatan permintaan da)am negeri dan sifat industrinya yang padat karya. Kelompok agroindustri yang mengalami penurunan antara lain industri pakan ternak dan makanan ringan. Penurunan industri pakan ternak disebabkan keter~antungan impor bahan baku (bungkil kedelai, tepung ikan, premix dan obat-obatan) yang mencapai 71 %. Sedangkan penurunan pada industri makanan ringan lebih disebabkan oleh penunman daya beli masyarak”t sebagai akibat krisis ekonomi.

  • Perkembangan agroindustri pasca krisis

Berdasarkan data perkembangan ekspor tiga tahun terakhir, terdapat kecenderungan beberapa komoditas mengaJami pertumbuhan yang positif Produk tersebut ·adalah minyak sawit dan turunannya, karet alami, produk hasil laut, bahan penyegar terutama kakao dan teh, hortikultura, dan makanan ringan / kering ( Anonim, 2000)

Berdasarkan potensi yang dimiliki, bebrapa komoditas dan produk agroindustri dapat dikembangkan pada masa mendatang. Kelompok produk ini memerlukan perbaikan teknologi proses agar mampu bersaing di pasar internasionaI. Produk tersebut adalah produk berbasis pati, hasil hutan non kayu, kelapa dan turunanya, minyak atisri dan flavor alamiah, bahan polimer non karet , hasillaut non ikan ( Mangunwidjaja, 1993)

Dari kelompok produk agroindustri potensial tersebut, Indonesia tak usah kawatir bersaing dengan negara lain dalam hal ketersediaan sumberdaya hayatinya, baik dalam Jumlah atau jenisnya. Sebagai contoh ragam jenis tanaman dan hewan yang merupakan sumber aroma dan flavor, Indonesia mempunyai kekayaan yang tak tertandingi di dunia, Selama ini kita hanya memanfaatkan tak lebih 10 jenis, antra lain nilam, akarwangi, cengkeh, sereh, menta. Sumber lain semisal dari bunga-bungan yang nilainya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan produk yang disebut belum banyak atau bahkan samasekali didayagunakan. Yang terlebih penting, dalam contoh minyak atsiri ini, selama ini Indonesia hanya mampu menjual dalam bentuk produk minyak atsiri ( hasil penyulingan, ekstraksi atau enflerasi ), padahal didalam minyak atsiri terkandung komponen utama penyusun wangi-wangian. Komponen utama inilah yang merupakan bahan baku industri parfum dan fragrance-dan tentunya mempunyai nilai tambah yang jauh amat tinggi dibandingkan harga minyak atsiri. ( Mangunwidjaja et aI, 1996 ) Sebagai contbh perbandingan nilai 1 kg minyak cengkeh dibandingkan eugenol (komponen dalam minyak cengkeh) adalah US$ 2 dibanding US$ 5000,-Gamberan serupa dapat diambil untuk semua jenis min yak atsiri. Perancis sebagai negara yang tidak mempunyai bahan baku minyak atsiri, justru berkembang pesat di dunia dalam industri hilir minyak atsiri ( parfum, fragran dan isolat atsiri ).

  1. E.     Peran Teknologi Untuk Pengembangan Agroindustri

Dalam pengembangan agroindus.n di tingkat perusahaan skala besar atau BUMN sebagaimana dicanamgkan oleh Pemerintah penting artinya dijalin kemitraan dengan usaha dan kegiatan yang dilakukan industri kecil at au pedesaan, Industri kecil ini dapat berperan dalam penyediaan atau penanganan serta pengolahan awal dari bah an baku yang akan diolah oleh industri besar ( Mangunwidjaja, 1998 ) Sehingga dapat kasus minyak atsiri misalnya, maka penyediaan baku sampai pengolahan minyak atsiri dikerjakan oleh industri keciL Minyak atsiri dari industri keeil atau pedesaan inilah yang kcmudian diolah oleh perusahaan besar (BUMN, swasta ) dcngan tcknologi yang lebih clisien unluk dihasilkan produk hilir bernilai tambah tinggi. Contoh serupa dapat diY.embangkan untuk produk kimia-oleo (oleoehemicals ) baik dengan bahan dasar kelapa atau kelapa sawit.

Bahwa pengembangan agroindustri di Indonesia selama ini banyak dililit oleh kendala , hal ini tak dapat dipungkiri. Salah satu kendala teknis adaJah kemampuan mengolah kita yang masih rendah. Hal itu ditunjukkan dengan sebagian besar k’1moditas pertanian yang diekspor merupakan bahan mentah, dengan nilai indeks retensi pengolahan sebesar 0,71 -0,75 %. Angka tersebut menunjukkan bahwa hanya 25 -29% produk pertanian Indonesia yang diekspor dalam bentuk olahan. Kondisi ini tentllsaja memperkecil nilai tambah yang diperoleh dari ekspor produk: pertanian, sehingga pengolahan lebih lanjut menjadi tuntutan bagi perkembangan agroindustri di era global

Dalam lingkup pcrdagangan pengolahan hasil perlanian mcnjadi produk agroindustri ditujukan untuk meningkatkan nilai tam bah komoditas tersebut. Semakin tinggi nilai produk olahan (seperti dicontohkan diatas) diharapkan devisa yang diterima oleh negara juga meningkat, serta keuntungan yang diperoleh oleh para pelaku agroindustri juga relatif tinggi. Konsepsi peningkatan nilai tambah agroindustri ini menjadi tema utama Simposium Nasional Agroindustri 111, tahun 1997 (Anonim, 1997) Teknologi proses yang dapat diterapkan untuk agroindustri sangat beragam, dan yang sederhana (fisik, mekanik seperti pengE’ringan ) teknologi sedang (reaksi hidrolisis ) sampai ke teknologi tinggi (proses bioteknologis). Dengan ragam teknologi yang demikian luas, maka diperlukan strategi pemilihan teknologi yang tepat untuk pengembangan agroindustri. Strategi ini bertumpu pada prinsip dasar pendayagunaan sumberdaya pertanian yang merupakan keunggulan komparatif menjadi pf(lduk

agroindustri unggulan yang mampu bersaing dipasaran dunia (keunggulan kompetitif).(Bagi fang tertarik untuk memahami strategi pemilihan tekn(‘logi dipersilahkan untuk membaca buku atau makalah bertaj uk tersebut ), Perkembangan iptek dan penerapannya di industri, menyebabkan batasan suatu ranah (domain) iptek mengalami pembaharuan dari masa ke masa. Demikian pula dengan teknoiogi proses yang pada awal tahun 1940-an senantiasa dihubungkan dengan proses kimiawi (Austin,1984). Dalam konteks tersebut teknologi proses diberi pengertian tentang tatacara berlandaskan ilmu pengetahuan untuk mengubah bahan secara kimiawi menjadi produk yang nilai ekonominya lebih tinggi. Oleh karena selain proses kimiawi, perlakuan fisik juga mampu meningkatkan nilai tambah suatu bahan, cakupan ini kemudian dipilahkan menjadi Satuan Operasi (Unit operation). Dengan demikian, teknologi proses diberi batasan tentang tatacara berlandaskan ilmu pengetahuan untuk mengubah secara kimiawi dan/atau fisik secara komersial suatu bahan menjadi produk.

 

 

Berdasarkan batasan tersebut, teknologi (proses) untuk agroindustri merupakan penerapan pengubahan (kimiawLbiokimiawi dan/at au fisik ) pad a hasil pertar.ian menjadi produk dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi. Produk agroindustri ini dapat merupakCln produk akhir yang siap dikonsumsi atau digunakan oleh manusia ataupun procuk yang merupakan bahan baku industri lain. Dalam tahapan proses, termasuk tahapan perlakuan/proses hulu (pasca panen). penyiapan, pengondisian, pemilihan (sorta::-i), dan lain lain, serta proses hilir berupa pemisahan dan pemurnian produk.

 

 

 

 

 

Sampai tahun 1980-an, perguruan tinggi teknologi (kimia, lingkungan, pertanian, farmasi) dalam kurikulum pendidikanya mengacu pada pemilahan tersebut, yaitu satuan operasi (pengelompokan berdasarkan pengubahan fisik) dan satuan proses (pengelompokan berdasarkan pengubahan kimiawi). Dalam pendekatan ini, tinjauan dtau telaahan teknologi proses menjadi lebih bersifat analisis. Sehabis Perang Dunia II, pendidikan rekayasa (teknik, engineering) kimia , terutama di Eropa berkembang pesat dengan pusatnya di Jerman dan Perancis, dan pendekatan analisis parsial tersebut mulai ditinggalkan dan mengubahnya dengan pendekatan kearah lebih sintesis. Dalam pendekatan ini teknologi proses dilihat sebagai sistem proses dan dicakup dalarn ranah rekayasa proses (process engineering). Dalam perkembangan berikutnya diparuh tahun 1970 dasar rekayasa proses itu diterapkan untuk konversi biokimiawi (enzimatik maupun mikrobial ) dan memunculkan ranah bam bioproses. Dalam pendekatan rekayasa proses, fokus lebih diarahkan pada tatacara untuk mencari atau merealisasikan langkah proses mengendalikan sistem pemroses beroperasl secara optImal (SoerawldJaJa, 1992). Berdasarkan perkembangan tersebut, bahasan dalam teknologi proses meliput sintesis, optimasi, pemodelan dan simulasi, serta pengendalian proses (Rudd dan Watson, 1988. Seider, et aI, 1999, Suryani dan Mangunwidjaja, 2000) Berikut disajikan contoh penerapan teknologi untuk produk produk agroindusui dari bertaraf sederhana sampai tinggi (Tabel I), Berdasarkan prospek yang baik, penerapan bioteknologi untuk pengemabngan agroindustri akan dibahas tersendiri dalam Seri Agroindustri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Pelaksanaan pembangunan pertanian sesuai dengan empat target di atas, serta pengembangan koridor ekonomi untuk wilayah Kalimantan, harus dapat disinergikan dalam memacu pembangunan pedesaan dan wilayah. Kedua upaya ini harus dapat menciptakan peluang bagi upaya peningkatan kapasitas sumberdaya manusia yang ada, serta menciptakan peluang usaha baru di pedesaan utamanya agroindustri. Agar upaya ini bisa terwujud diperlukan perubahan dalam proses perencanaan dan pelaksanaan pembangunan desa, hal itu meliputi :

  1. Pembanguan pedesaan dilaksanakan melalui pendekatan terpadu, dengan penekanan pada penyiapan sumberdaya manusia untuk dapat memanfaatkan berbagai peluang yang ada, di luar kegiatan budidaya pertanian.
  2. Pemerintah perlu mendorong desa-desa model di setiap kabupaten, yang memperlihatkan penumbuhan usaha agroindustri melalui optimalisasi pemanfaatan sumberdaya yang ada,  serta membuka peluang dilakukannya penataan penguasaan dan pengusahaan lahan di tingkat petani.
  3. Pemerintah  pusat perlu mendukung upaya ini dengan memberikan alokasi dana khusus pada desa-desa yang pembangunannya dilaksanakan secara terpadu, yang diawali dengan penataan proses pendataan serta penyempurnaan infrastruktur yang ada, dan secara bertahap mendukung upaya pengembangan usaha peningkatan nilai tambah.
  4. Dalam jangka panjang perlu dibangun suatu mekanisme penilaian kemajuan suatu desa, dengan basis utama penilaian berdasarkan kemajuannya dalam penciptaan usaha agroindustri, serta perbaikan dalam penguasaan dan pengusahaan lahan petani.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1983 Simposium Nasional Agroindustri I, Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta, IPH. Bogor

Anonim, 1993. Garis Besar Haluan Negara. Sekeetaris I’vlPR, Jakarta

Anonim, 1995. Sistem. strategi dan pengembangan agroindustri. Badan Agribisis, Deptan, Jakarta

Anonim, 1997. Simposium Nasional.Agroindustri III. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta, IPB, Bogor

Anonim, 1999. Butir-butir Garis Besar Haluan Negara 1999-2004, Sekretariat MPR. Jakarta.

Anonim, 2000. Perkembangan ekspor produk industri kimia, hutan dan agro. Direktorat Jendral Industri Kimia, Hutan dan Agro. Depperindag, Jakarta

Austin, lE. 1981. Agroindustrial Project Analysis. The John Hopkins University Press, London.

Austi, G.T .1984. Shreve’s Chemical Process Industries. Fifth Edition.lv1c Graw Hill Book CO,New York

Dominguez,PG and Adriono, LS, 1994. BIMP-EAGA Agroindustrial COJperation A proposed frame work and plan of action, USM (Mimeograph)

Mangunwidjaja, D.1993. State of the Art : Pengembangan teknologi proses untuk agroindustri. Makalah pada Forum Teknologi, Dikti, Depdikbud, Cisarua, 12 Nopember

Mangunwidjaja, 0, Eriyatno, and Boley, F, 1996. Feasibility study on the development of essential oil industry in Indonesia. Business Innovation Center-Indonesia, Jakarta (unpublisehed)

Mangunwidjaja, D, 1998 Agroindustri pedesaan untuk pemberdayaan ekonomi rakyat. Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fateta, IPB Bogor

Porter, ME, 1992 Competitive Strategy : Techniques for Analysing Industries and Competitors. The Free Press, New York

Rudd, DE and Watson, CC.1988 Strategy of Process Engineering. Wiley International Edition

By Acehmillano Ganto Posted in MAKALAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s