UDANG GALAH


BAB I

PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG

Ikan, cumi dan udang termasuk hewan vertebrata, hewan vertebrata adalah hewan yang bertulang belakang atau punggung. Memiliki struktur tubuh yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan hewan invertebrata. Hewan vertebrata memiliki tali yang merupakan susunan tempat terkumpulnya sel-sel saraf dan memiliki perpanjangan kumpulan saraf dari otak. Tali ini tidak memiliki oleh yang tidak bertulang punggung. Dalam memuhi kebutuhannya, hewan vertebrata telah memiliki system kerja sempurna peredaran darah berpusat organ jantung  dengan pembuluh-pembuluh menjadi salurannya.

Tambak merupakan suatu tempat pemeliharaan udang/ikan di air payau dengan cara membuat petakan-petakan pemeliharaan pada daerah pantai yang selalu mempunyal pasang surut yang tetap.

Beberapa keuntungan dan budidaya udang ditambak adalah :

–          Areal untuk budidaya/pemeliharan dapat di sediakan lebih luas dan pada kolam air tawar.

–          Musim pemeliharaan dapat dilaksanakan 2 kali dalam setahun.

–          Usaha tambak secara ekonomis cukup menguntungkan.

–          Komoditi ekspor, karena itu hasil dari udang termasuk budidaya tambak rnudah untuk di pasarkan.

–          Meningkatkan kesejahteraan petani ikan

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.UDANG GALAH

Udang galah merupakan komoditi ikan air tawar yang dapat dipasarkan baik untuk  kebutuhan dalam maupun luar negeri. Ukurannya mulai 100gr sampai dengan 200gr per ekor. Bahkan udang yang tertangkap diperairan umum dapat mencapai 300gr per ekor. Udang galah dapat dipelihara di kolam-kolam oleh para pembudidaya udang, baik secara polikultur maupun monokultur dengan biaya yang cukup rendah sehingga dapat meningkatkan penghasilan pembudidaya. Mengingat prospek pemasarannya yang baik maka petunjuk teknis budidaya udang galah perlu dikembangkan.

Udang galah termasuk famili Palamonidae. Badan udang terdiri atas 3 bagian: kepala dan dada (Cephalothorax), badan (Abdomen) serta ekor (Uropoda). Cephalothorax dibungkus oleh kulit keras, di bagian depan kepala terdapat tonjolan karapas yang bergerigi disebut rostrum pada bagian atas sebanyak 11‐13 buah dan bagian bawah 8‐14 buah. Udang galah hidup pada dua habitat, pada stadia larva hidup di air payau dan kembali ke air tawar pada stadia juvenil hingga dewasa. Pada stadia larva perubahan metamorfose terjadi sebanyak 11 kali dan berlangsung selama 30‐35 hari. Udang galah bersifat omnivora, cenderung aktif pada malam hari.

Perbedaan antara udang jantan dan udang betina :

  1. Udang jantan Relatif lebih besar, Pasangan kaki jalan yang kedua relatif lebih besar dan panjang (bahkan dapat mencapai 1,5 kali panjang total tubuhnya), Bagian perut lebih ramping, Ukuran pleuron lebih pendek, Alat kelamin terdapat pada basis pasangan kaki jalan kelima, Pasangan kaki jalan terlihat lebih rapat dan lunak.
  2. Udang betina Tubuh lebih kecil, Pasangan kaki jalan kedua tetap tumbuh lebih besar, tetapi tidak sebesar dan sepanjang udang jantan, Bagian perut lebih besar, Pleuron memanjang, Alat kelamin terletak pada pangkal kaki ketiga, merupakan suatu lubang yang disebut thelicum.

 

2.2.PROSES REPRODUKSI

Dalam prakteknya, kegiatan pemijahan secara alami adalah berupa memasangkan induk jantan dan betina yang matang gonad/siap kawin ke dalam wadah pemeliharaan yang sama. Tidak seperti pada proses perkawinan ikan budidaya lainnya ‐misalnya ikan mas‐‐, proses pemijahan dapat terjadi dalam waktu yang relatif singkat dan hanya hanya perlu sekitar satu atau dua hari. Ikan yang matang gonad akan memijah/kawin secara alami. Pada pemijahan udang, proses perkawinan sangat dipengaruhi dan berkaitan erat dengan proses moulting (pergantian kulit) pada induk betina. Dalam hal ini proses moulting dan pemijahan dipengaruhi oleh kelenjar hormon yang terdapat pada tangkai mata.

Sebelum terjadinya proses perkawinan, udang betina berganti kulit terlebih dahulu yang disebut premattingmoult. Setelah udang betina mengalami pergantian kulit, keadaannya menjadi lemah. Pada saat inilah perkawinan akan terjadi. Perkawinan udang galah berlangsung secara sederhana. Udang jantan akan mengeluarkan spermanya dan sperma tersebut akan ditampung pada spermatheca diantara kaki jalan betina. Proses selanjutnya adalah proses pembuahan yang terjadi di luar tubuh induknya. Kejadian ini berlangsung pada saat telur turun melalui lubang kelamin, yang kemudian akan dipindahkan ke tempat pengeraman. Telur yang terdapat pada spermatheca akan dibuahi oleh sperma. Setelah pembuahan berlangsung, telur diletakkan pada ruang pengeraman yang terdapat diantara kaki renang induk betina hingga saatnya menetas.

Di alam bebas proses pemijahan umunya terjadi di muara sungai. Di daerah tropis seperti Indonesia proses pemijahan sangat mungkin terjadi sepanjang tahun. Secara biologi proses pemijahan ini akan terjadi di muara sungai karena larva/naupli udang galah hanya akan dapat hidup dan berkembang pada kondisi air payau (kadar garam 8‐12 ppt).

2.3.PEMILIHAN LOKASI DAN SARANA

  1. A.    Lokasi

Untuk menentukan lokasi backyard hatchery udang skala rumah tangga tentu saja berbeda dengan hatchery skala besar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi adalah mudah memperoleh air tawar yang bersih, jernih, dan bebas dari limbah, tersedia aliran listrik selama 24 jam, tanah dasar bak cukup stabil, dan dekat dengan pemasok nauplius, pakan, dan daerah pemasaran.

  1. B.     Sarana
  2. 1.      Air Tawar

Air tawar ini diperlukan untuk pengenceran dalam membuat air payau (salinitas 8‐12 ppt), pemeliharaan larva, pencucian bak dan peralatan pembenihan lain, pemeliharaan induk, aklimatisasi, dan juga penampungan sementara pascalarva sebelum dipasarkan. Air tawar ini harus bersih dari endapan lumpur dan kotoran lain, terbebas dari berbagai pencemar (pestisida, minyak, pelumas, limbah pemukiman/industri, bahan‐bahan lain yang dapat menurunkan kualitas air), pH 7,5‐8, dan kesadahannya 40‐100 ppm. Sumber air dapat berasal dari PAM, tetapi karena suplainya tidak selalu teptap, maka dilakukan penampungan dalam bak, lalu dialirkan melalui pipa‐pipa ke hatchery.

  1. 2.      Air Laut

Air laut ini diperlukan untuk pengenceran dalam membuat air payau. Air laut harus terbebas dari berbagai pencemar dan memiliki pH 7,5‐8.

  1. 3.      Suplai Udara / Aerasi

Aerasi ini dibutuhkan untuk mendistribusikan oksigen, mendistribusikan pakan hidup, dan juga mendistribusikan pakan buatan menjadi bergerak seperti pakan hidup (karena udang lebih menyukai pakan hidup/yang bergerak). Aerasi ini dilakukan secara terus‐menerus selama pemeliharaan dan penetasan kista artemia. Sumber udara ini dapat berasal dari blower. Udara yang dipompakan blower dialirkan melalui pipa pralon, lalu dialirkan pada selang‐selang kecil dari plastik untuk disebarkan (ujungnya diberi batu aerasi agar dihasilkan gelembung udara kecil), lalu batu diletakkan pada dasar bak. Jumlah aerator yang dibutuhkan tergantung dari volume air yang tersedia.

  1. 4.      Tenaga Listrik

Listrik ini dibutuhkan untuk peneranagn, menjalankan blower, pompa air, heater, dll. Listrik dapat berasl dari PLN, tetapi karena listrik dapat terputus maka perlu disediakannya generator pembangkit listrik.

  1. 5.      Wadah Penetasan dan Pemeliharaan

Wadah pemijahan yang dapat digunakan antara lain antara lain : kolam tanah, bak beton, bak serat kaca maupun akuarium. Penggunaan wadah tersebut sangat terkait dengan tingkat penanganan yang akan diterapkan, sebagai contoh pemijahan induk di akuarium memerlukan penanganan yang lebih dimana memerlukan sistem aerasi, pergantian air yang rutin bahkan mungkin pemanas air, sementara jumlah induk yang dipeliharapun terbatas. Oleh karena itu wadah yang banyak yang dipakai di unit‐unit pembenihan umumnya berupa kolam atau bak beton dengan luasan yang cukup memadai sesuai jumlah induk yang dikelola. Persyaratan wadah untuk kolam pemijahan adalah sama seperti halnya wadah pemeliharaan untuk pematangan.

Kolam memiliki pemasukan air dan pintu pengeluaran. Debit air yang masuk ke kolam kurang lebih 0,5 l/detik. Kolam dilengkapi pula dengan dengan system kemalir dan kobakan yang akan memudahkan pada saat panen/seleksi. Persiapan kolam yang perlu dilakukan meliputi, pengeringan, perbaikan dasar, pematang serta kemalir kolam, dan pengapuran dengan dosis 50 gram/m2. Hal lain yang harus dilakukan adalah pemasangan shelter/tempat berlindung bagi udang yang sedang berganti kulit. Untuk hal ini dapat digunakan daun kelapa dan ranting pohon. Kedalaman air di kolam yang ideal untuk pemijahan antara 80 ‐ 100 cm.

  1. 6.      Bejana Kultur Makanan Alami

Bejana ini untuk kultur Artemia salina. Bejana ini dilengkapi pula dengan aerator.

2.4.SELEKSI INDUK

Beberapa persyaratan untuk mendapatkan induk yang baik :

Ukuran induk betina diatas 40 gr dan jantan diatas 50 gr, Kantung pengeraman penuh telur yang sudah berwarna abu‐abu, Organ tubuh lengkap / tidak cacat, Kulit bersih / bebas dari kotoran maupun organisme yang bersifat patogen, Umur induk antara 8‐20 bulan, Memilih induk yang sudah matang telur untuk yang kedua kali dan seterusnya, belum dipijahkan lebih dari 7 kali, Berasal dari udang yang pertumbuhannya cepat

Dalam pengamatan produksi di lapangan, hasil kegiatan pemijahan biasanya dapat dievaluasi setelah 21 hari, dari mulai induk disatukan dalam wadah pemijahan. Seleksi induk matang telur dilakukan dengan mengeringkan kolam pemijahan, kegiatan ini sebaiknya dilakukan pada pagi hari. Pagi hari sebaiknya kolam sudah kering dan induk tertampung semua dalam kobakan, pada kondisi ini air sebaiknya terus mengalir. Oleh karena itu sistem kemiringan kolam, kemalir dan kobakan harus diterapkan dengan baik, sehingga induk terjaga dari kematian. Induk‐induk dipanen secara hati‐hati dan dikumpulkan di hapa atau bak penampungan yang sudah disiapkan sebelumnya dan dilengkapi dengan sistem air mengalir. Setelah kondisi induk disegarkan beberapa saat, maka proses seleksi/pemilihan induk matang telur dapat segera dilakukan.

Berdasarkan pengamatan dilapangan tingkat kematangan telur induk dapat bervariasi dari mulai oranye, kuning hingga colat keabu‐abuan. Induk yang siap ditetaskan adalah yang berwarna coklat keabu‐abuan, induk ini secara hati‐hati harus segera dipindahkan ke bak penetasan yang telah disiapkan sebelumnya (air yang digunakan untuk penetasan mengandung kadar garam kurang lebih 5 ppt). Untuk induk‐induk dengan warna telur, oranye dan kuning dipisahkan pada kolam atau bak Khusus untuk dimatangkan lebih lanjut. Sedangkan induk jantan dapat dipelihara kembali di kolam pemulihan/pemeliharaan induk dan dipisah dari induk betina.

Dalam pengelolaan suatu unit usaha pembenihan udang galah, jumlah induk yang dikelola sangat menentukan bagi keberhasilan suatu perencanaan produksi. Setelah target produksi juvenil (post larva) ditetapkan sesuai dengan beberapa pertimbangan ekonomis, maka mulailah dilakukan perhitungan secara mundur berapa jumlah induk yang harus dikelola, agar target produksi tersebut dapat dicapai.

Terkait dengan Induk dan pengelolaanya maka beberapa hal yang perlu dicatat dan diperhatikan dalam perencanaan produksi antara lain sebagai berikut:

  1. Jumlah telur yang dihasilkan oleh betina (fecundity ). Sangat terkait dengan ukuran induk yang digunakan, dan tingkat pemeliharaan yang dilakukan terkait pengelolaan air dan pakan yang diberikan,
  2. Data hubungan antara bobot induk matang telur terkait dengan jumlah larva/naupli yang dihasilkan. Data ini mencerminkan kualitas telur yang dihasilkan,
  3. Data jumlah prosentase jumlah induk yang bertelur dan matang telur dihubungkan jumlah betina seluruhnya,
  4. Jumlah jantan dan betina yang digunakan perbandingannya sesuai.

Perbandingan jantan dan betina dalam kegiatan pemijahan tergantung dari tujuannya. Perbandingan jantan : betina (1:3) adalah sangat umum dilakukan untuk suatu kegiatan produksi benih sebar untuk keperluan pembesaran. Adapun untuk tujuan perbanyakan induk ‐ induk alam umumnya dilakukan dengan perbandingan (1:1).

2.5.PEMIJAHAN DAN PEMELIHARAAN INDUK

  1. A.    Pemijahan

Pada prinsipnya teknik pemijahan yang banyak diterapkan dalam pembenihan udang galah adalah bersifat alamiah seperti yang telah dipaparkan sebelumnya. Walaupun proses perkawinan dipengaruhi proses moulting, yang mana terkait dengan kelenjar hormon yang ada pada tangkai mata, namun dalam proses pemijahan, tidak lazim dilakukan pemotongan tangkai mata (ablasi) untuk merangsang terjadinya proses tersebut. Sebelum terjadi pemijahan udang betina terlebih dahulu berganti kulit (premating moult). Pada kondisi ini udang lemah, setelah pulih kembali terjadilah pemijahan. Pemijahan dapat dilakukan di kolam tanah, akuarium, bak beton atau fibreglass dengan padat tebar 4 ekor/m2. Perbandingan induk jantan dan betina 1 : 3. Selama proses pemijahan induk diberi pakan pelet dengan kandungan protein 30% sebanyak 5% per hari dari berat biomass dengan frekuensi pemberian pakan 4 kali sehari, lama pemijahan 21 hari. Dalam usaha budidaya, benih merupakan faktor penentu dan mutlak harus disediakan. Untuk memenuhi pangsa pasar di luar maupun dalam negeri, diperlukan kesinambungan produksi dan ketersediaan suplai benih yang memenuhi syarat baik kuantitas maupun kualitas. Benih udang galah dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu mengumpulkan benih di alam dan juga dengan cara memproduksi benih di balai‐balai pembenihan.

  1. B.     Pemeliharaan Induk

Induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 4 ekor/m2, diberi pakan berupa pelet dengan kandungan protein 30% sebanyak 5% dari berat tubuh. Pada pemeliharaan induk ini, induk jantan dan betina sebaiknya dipelihara secara terpisah, baik di kolam maupun di bak beton dilengkapi dengan pintu pemasukan dan pengeluaran dengan kedalaman 80‐100 cm.

2.6.PAKAN DAN PEMBERIAN PAKAN

Kandungan nutrisi dari pakan yang diberikan akan sangat mempengaruhi kualitas telur yang dihasilkan. Karena itu kandungan protein dari pakan yang diberikan sebaiknya tidak kurang dari 30%. Jumlah pemberian pakan adalah 3 ‐ 5 % dari bobot induk yang ada. Jumlah pemberian pakan pada malam hari dianjurkan lebih banyak. Pakan terdiri dari dua jenis, yaitu pakan alami dan pakan buatan/adonan. Artemia salina banyak digunakan sebagai pakan alami. Artemia salina yang digunakan yang masih dalam stadium naupilus. Cara penetasan kista Artemia salina dimana kista direndam di dalam larutan klorin 1,55 ppm selama 30 menit, kista yang mengendap dicuci dengan air tawar bersih, ditiriskan, kista dimasukkan ke air payau yang beraerasi.

Panen naupilus dilakukan setelah 24 jam untuk pakan larva yang berumur kurang dari 15 hari, sedangkan untuk pakan larva 15 hari hingga pascalarva diberikan naupilus yang telah berumur 48 jam. Jumlah yang diberikan tergantung dari umur larva, semakin besar larva maka akan semakin banyak kebutuhan naupilusnya. Pakan buatan terdiri atas susu tanpa lemak (12 gr), tepung terigu (50 gr), kuning telur (120gr), udang (650 gr), vitamin (10 mL), dan air (100‐200mL). Pakan alami diberikan 3 kali.hari, sedangkan pakan buatan diberikan 2x/hari. Pakan buatan tersebut dibuat dengan cara semua bahan (kecuali udang) dihaluskan dengan blender, udang dubuang bagian kepala dan kulitnya, udang digiling, udang disatukan dengan seluru adonan, lalu dihaluskan, adonan dimasukkan ke dalam loyang, lalu dikukus, direndam dengan air, disaring (besarnya mata saring sesuai kebutuhan)

 

2.7.PENETASAN TELUR DAN PEMELIHARAAN LARVA

  1. A.    Penetasan Telur

Bak penetasan yang digunakan berukuran (1 x1 x0,5) m2 dengan media air payau bersalinitas 3‐5 ppt, padat penebaran induk 25 ekor per bak. Selama penetasan telur, induk diberi makanan berupa ketela rambat, singkong atau kentang dipotong‐potong kecil. Hal ini untuk menghindari dampak negatif kualitas air. Pada suhu 28‐30°C telur akan menetas dalam waktu 6 ‐ 12 jam. Kemudian larva dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan. Setelah dilakukan pemijahan seiama 21 hari, induk diseleksi yang matang telur dengan warna telur abu‐abu. Induk tersebut diberi perlakuan dengan larutan Malachite green sebanyak 1,5 mg/liter, dengan cara perendaman selama 25 menit.

  1. B.     Pemeliharaan Larva

Pemeliharaan larva udang galah dapat dilakukan pada bak fiber glass kerucut atau bak beton yang sudagh dibersihkan dari kotoran dan dicuci dengan menggunakan larutan kaporit 10 ppm. Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pemeliharaan larva tersebut antara lain kualitas air dan pemberian pakan baik pakan alami maupun pakan adonan yang disesuaikan dengan bukaan mulut larva. Kepadatan larva yang ditebar 50 ekor/liter. Pakan berupa nauplius artemia diberikan pagi dan sore hari pada hari ke‐3. Pada hari yang sama diberikan juga pakan adonan sampai menjadi post larva dengan frekuensi pemberian 8 kali/hari. Penggantian air dilakukan setiap hari sebanyak 20‐30%, pada hari ke 10 mulai dilakukan penyiphonan kotoran pada dasar bak. Kadar garam media pemeliharaan larva 10 ppt.

Setelah seluruh larva menjadi juvenil, kadar garam diturunkan secara bertahap sampai 0 ppt, grading mulai dilakukan setelah larva berumur 30 hari, lalu pada hari ke 45 juvenil siap untuk dipasarkan.

 

2.8.PENCEGAHAN PENYAKIT

Selama periode pemeliharaan larva, sering terjadi serangan penyakit bakterial yang berasal dari laut yakni Vibrio sp. dengan tanda‐tanda stress. Lalu terjadi kematian massal dalam waktu yang singkat. Untuk mencegahnya, perlu dilakukan chlorinasi media dan pemgeringan bak serta fasilitas lain selama seminggu. Seandainya sudah terjangkit penyakit tersebut pada larva yang dipelihara maka dapat digunakan Furazolidon dengan dosis 10‐15 ppm. Penyakit merupakan salah satu faktor pembatas keberhasilan pembenihan udang galah. Penyakit yang biasa timbul adalah penyakit bakterial yangberupa Vibro sp. dengan ditandai semacam stress, Fluorisensi pada larva yang mati dan terjadi kematian massal dalam waktu yang singkat.

Untuk mencegah terjadinya serangan bakterial perlu adanya “Chlorinisasi” media dan pengeringan fasilitas selama 7 hari, jika sudah terserang pengobatannya menggunakan Furozolidone dengan dosis 11‐13 ppm, dengan cara perendaman selama 3 hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1.KESIMPULAN

Udang galah hidup pada dua habitat, pada stadia larva hidup di air payau dan kembali ke air tawar pada stadia juvenil hingga dewasa. Pada stadia larva perubahan metamorfose terjadi sebanyak 11 kali dan berlangsung selama 30‐35 hari. Udang galah bersifat omnivora, cenderung aktif pada malam hari.

Perbedaan antara udang jantan dan udang betina :

  1. Udang jantan Relatif lebih besar, Pasangan kaki jalan yang kedua relatif lebih besar dan panjang (bahkan dapat mencapai 1,5 kali panjang total tubuhnya), Bagian perut lebih ramping, Ukuran pleuron lebih pendek, Alat kelamin terdapat pada basis pasangan kaki jalan kelima, Pasangan kaki jalan terlihat lebih rapat dan lunak.
    1. Udang betina Tubuh lebih kecil, Pasangan kaki jalan kedua tetap tumbuh lebih besar, tetapi tidak sebesar dan sepanjang udang jantan, Bagian perut lebih besar, Pleuron memanjang, Alat kelamin terletak pada pangkal kaki ketiga, merupakan suatu lubang yang disebut thelicum.
    2. Untuk menentukan lokasi backyard hatchery udang skala rumah tangga tentu saja berbeda dengan hatchery skala besar. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi adalah mudah memperoleh air tawar yang bersih, jernih, dan bebas dari limbah, tersedia aliran listrik selama 24 jam, tanah dasar bak cukup stabil, dan dekat dengan pemasok nauplius, pakan, dan daerah pemasaran.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://world-aquaculture.blogspot.com/2009/05/udang-galah.html

http://mengenaludangwindu.blogspot.com/2009/04/morfologi-dan-anatomi-udang-windu-dan.html

http://iswadi37.wordpress.com/2008/04/28/teknik-pembenihan-udang-galah-macrobrachium-rosenbergii-de-man/

http://www.perpuskita.com/budidaya-udang-galah/114/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s