ILMU ALAMIAH DASAR


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1.    LATAR BELAKANG

 

            Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna di muka bumi ini. Tanda-tanda kesempurnaan ini amat banyak, antara lain kelihatan bahwa manusia (normal) dianugerahi dengan panca indera, akal pikiran dan budi pekerti. Manusia merupakan makhluk yang dapat dan akan selalu berpikir. Mereka akan selalu memiliki hasrat rasa ingin tahu dan ingin mengerti.

            Manusia dengan hasrat ingin tahunya membuat mereka dapat memecahkan setiap permasalahan dan pemikiran yang ada di dalam benaknya. Apabila rasa ingin tahu ini dapat dimanfaatkan dengan baik maka akan membawa manusia semakin mengerti dirinya sendiri. Lebih jauh lagi, lewat rasa ingin tahu, manusia dapat mengetahui kebenaran karena segala sesuatu yang tampak nyata dalam hidup tidak sepenuhnya benar. Dengan demikian rasa ingin tahu dapat membuka pikiran manusia dan membuat manusia merasakan pengalaman baru yang akan menstimulasi pikirannya dan melepaskan emosi yang kreatif.

            Rasa ingin tahu dapat menembus batas penalaran yang biasa manusia terima dan akan membongkar setiap detail yang menggerakkan sebuah proses. Semakin manusia mengerti detail, maka semakin mereka mengerti prosesnya. Hal inilah yang akan membuat manusia menjadi lebih produktif. Kita sebagai manusia akan terus belajar lebih banyak saat rasa ingin tahu menyelimuti kita. Kita akan menembus batas-batas pemikiran kita. Semakin banyak yang kita pelajari, semakin banyak pula yang akan kita tahu. Dengan rasa ingin tahu yang kita miliki kita akan melihat berbagai hal dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga kita akan selalu memikirkan dan menemukan cara alternative dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi.

            Manusia pada dasarnya akan lebih mudah untuk berpikir negative daripada positif. Apabila kita tidak mengerti akan suatu hal, atau tidak terbiasa akan suatu hal, mudah sekali untuk menghilangkan pikiran tersebut dari otak kita. Hanya jika kita mengerti akan sesuatu, maka kita akan menghargainya, karena manusia akan lebih positif pada sesuatu yang mereka ketahui. Rasa ingin tahu-lah yang membuat pikiran kita lebih luas dan menambahkan pengertian yang lebih mendalam sehingga kita sebagai manusia akan menjadi lebih positif menyikapi segala sesuatu.

            Ilmu pengetahuan berawal dari kekagaguman manusia akan alam yang didiaminya dan dihadapinya. Karena manusia merupakan makhluk yang dapat berpikir lewat karunia akal pikiran yang diberikan oleh Tuhan, maka mereka memiliki hasrat ingin tahu. Rasa ingin tahu yang kemudian ditindak lanjuti dengan penggunaan akal untuk memecahkan masalah, adalah perbedaan mendasar kita dengan hewan. Jadi, setiap orang harus memiliki rasa ingin tahu, karena selama rasa ingin tahu ada dalam pikiran kita maka manusia akan terus belajar dan memanfaatkan otaknya bukan hanya sebagai pengisi volume batok kepala semata. Selama manusia dapat mengembangkan rasa ingin tahunya itu dengan cara-cara yang positif, maka ilmu akan terus berkembang.

 

1.2.    RUMUSAN MASALAH

           

Dalam sejarah kehidupan, manusia selalu berusaha untuk mencari kebenaran. Kebenaran itu mencakup alam semesta yang ditempatinya. Rasa ingin tahu manusia akan segala hal dapat membuka jalan pikiran manusia untuk mencari penyelesaian dari masalah yang ada pada benak mereka.

            Ilmu pengetahuan berawal dari kekagaguman manusia akan alam yang didiaminya dan dihadapinya. Ilmu pengetahuan lahir karena adanya rasa ingin tahu manusia akan segala sesuatu yang muncul dalam benak mereka.

 

1.3.    PEMBATASAN MASALAH

           

Untuk mengetahui proses rasa ingin tahu manusia yang berkembang menjadi ilmu pengetahuan manusia dapat mengembangkan rasa ingin tahunya itu dengan cara-cara yang positif, maka ilmu akan terus berkembang.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1.    PENGERTIAN ILMU ALAMIAH DASAR

 

Ilmu alamiah atau sering disebut ilmu pengetahuan alam (natural science) merupakan pengetahuan yang mengkaji tentang gejala-gejala dalam alam semesta, termasuk di muka bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip. IAD hanya mengkaji konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar yang esensial saja.

 

2.2.    MANUSIA YANG BERSIFAT UNIK

Ciri-ciri manusia

  1. Organ tubuhnya kompleks dan sangat khusus, terutama otaknya
  2. Mengadakan metabolisme atau pertukaran zat, (ada yang masuk dan keluar)
  3. Memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari dalam dan luar
  4. Memiliki potensi untuk berkembang biak
  5. Tumbuh dan bergerak
  6. Berinteraksi dengan lingkungannnya
  7. Sampai pada saatnya mengalami kematiian

            Manusia adalah makhluk yang lemah dibanding makhluk lain namun dengan akal budinya dan kemauannya yang sangat kuat maka manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan ilmu pengetahuan dan  teknologi manusia dapat hidup dengan lebih baik lagi. Akal budinya dan kemauannya yang sangat kuat itulah sifat unik dari manusia. Itulah sebab dari adanya penundukkan semua yang ada di alam ini untuk manusia, sebagai rahmat dan karunia dari Allah SWT. Allah telah menundukkan bagi kalian apa-apa yang ada di langit dan di bumi semuanya. (Q. S. Al-Jatsiyah: 13).

اللّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ وَسَخَّرَ لَكُمُ الأَنْهَارَ

 

“Allah telah menundukkan bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar. Dia juga telah menundukkan bagi kalian malam dan siang.” (Q. S. Ibrahim: 33).

  وَسَخَّر لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَآئِبَينَ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَا

 

  “Allah telah menundukkan bahtera bagi kalian agar dapat berlayar di lautan atas kehendak-Nya.” (Q. S. Ibrahim: 32), dan ayat lainnya yang menjelaskan apa yang telah Allah karuniakan kepada manusia berupa nikmat akal dan pemahaman serta derivat (turunan) dari apa-apa yang telah   Allah tundukkan bagi manusia itu sehingga mereka dapat memanfaatkannya sesuai dengan keinginan mereka, dengan berbagai cara yang mampu mereka lakukan.

            Itulah sebab dari adanya penundukkan semua yang ada di alam ini untuk manusia, sebagai rahmat dan karunia dari Allah SWT. {“Allah telah menundukkan bagi kalian apa-apa yang ada di langit dan di bumi semuanya. Allah telah menundukkan bagi kalian matahari dan bulan yang terus menerus beredar. Dia juga telah menundukkan bagi kalian malam dan siang Ibrahim: Allah telah menundukkan bahtera bagi kalian agar dapat berlayar di lautan atas kehendak-Nya dan ayat lainnya yang menjelaskan apa yang telah Allah karuniakan kepada manusia berupa nikmat akal dan pemahaman serta derivat (turunan) dari apa-apa yang telah Allah tundukkan bagi manusia itu sehingga mereka dapat memanfaatkannya sesuai dengan keinginan mereka, dengan berbagai cara yang mampu mereka lakukan. Kedudukan akal dalam Islam adalah merupakan suatu kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia dibanding dengan makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dengannya, manusia dapat membuat hal-hal yang dapat mempermudah urusan mereka di dunia. Namun, segala yang dimiliki manusia tentu ada keterbatasan-keterbatasan sehingga ada pagar-pagar yang tidak boleh dilewati.

 

2.3.    KURIOSITAS (RASA INGIN TAHU)

 

            Berbeda dengan mahluk lainnya manusia selalu serba ingin tahu terhadap berbagai fenomena alam yang dialaminya, manusia selalu bertanya ada apa, Bagaimana dan mengapa ? pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pisau-pisau untuk menoreh pengetahuan walaupun secara sederhana dan bersifat indrawi. Sementara mahluk lain dalam memenuhi kebutuhan dan kelangsungan hidupnya hanya mengandalkan naluriah (instink) belaka sementara Asimov menyebutnya idle curiosity yang sifatnya tetap tidak berkembang sepanjang jaman contohnya sarang burung manyar mungkin yang tercanggih dibanding burung lainnya, tetapi sejak dulu sampai saat ini sarang burung manyar konstruksi dan motivnya tetap begitu saja, berbeda dengan manusia dulu pada zaman primitif manusia hidup digua-gua, berubah menjadi rumah sederhana, dengan ilmu dan teknologi manusia dapat membangun rumah-rumah modern pencakar langit, artinya manusia memiliki rasa ingin tahu yang berubah menjadi daya pikir yang dapat berkembang sepanjang jaman sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya yang tidak pernah puas maka manusia terus berupaya mencari dan menemukan sesuatu yang dapat memudahkan dan menyenangkan dalam hidupnya.

            Semua kebenaran telah tercantum dalam al-Qur’an. Hanya Allah-lah Tuhan yang Maha Mengetahui segala sesuatu dan semua kebenaran. Salah satu sebab utama yang menghasilkan keseimbangan di alam semesta, tidak diragukan lagi, adalah beredarnya benda-benda angkasa sesuai dengan orbit atau lintasan tertentu.Walaupun baru diketahui akhir-akhir ini, orbit ini telah ada di dalam Al Quran:

 

 

 

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya, di  mana firman allah bersabda” (QS. Al Anbiya:33)

 

            Bintang, planet, dan bulan berputar pada sumbunya dan dalam sistemnya, dan alam semesta yang lebih besar bekerja secara teratur seperti pada roda gigi suatu mesin. Tata surya dan galaksi kita juga bergerak mengitari pusatnya masing-masing. Setiap tahun bumi dan tata surya bergerak 500 juta kilometer menjauhi posisi sebelumnya. Setelah dihitung, diketahui bahwa bila suatu benda langit menyimpang sedikit saja dari orbitnya, hal ini akan menyebabkan hancurnya sistem tersebut. Misalnya, marilah kita lihat apa yang akan terjadi bila orbit bumi menyimpang 3 mm lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya.

            Dalam sejarah kehidupan, manusia selalu berusaha untuk mencari kebenaran. Sebuah proses yang panjang dimana manusia sebelum menemukan kebenaran mereka harus memiliki rasa ingin tahu terhadap kebenaran tersebut. Proses Rasa Ingin tahu itu kemudian menjadi ilmu pengetahuan agar dapat dipertanggungjawabkan sebagai sebuah kebenaran. Proses tersebut dimulai dengan beberapa zaman atau tahap :

 

  1. Mitos

Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terpuaskan hanya atas dasar pengamatan ataupun pengalaman. Untuk itulah, manusia mereka-reka sendiri jawaban atas keingintahuannya itu. Sebagai contoh: “Apakah pelangi itu?”, karena tak dapat dijawab, manusia mereka-reka jawaban bahwa pelangi adalah selendang bidadari. Jadi muncul pengetahuan baru yaitu bidadari. Contoh lain: “Mengapa gunung meletus?”, karena tak tahu jawabannya, manusia mereka-reka sendiri dengan jawaban: “Yang berkuasa dari gunung itu sedang marah”. Dengan menggunakan jalan pemikiran yang sama muncullah anggapan adanya “Yang kuasa” di dalam hutan lebat, sungai yang besar, pohon yang besar, matahari, bulan, atau adanya raksasa yang menelan bulan pada saat gerhana bulan. Pengetahuan baru yang bermunculan dan kepercayaan itulah yang kita sebut dengan mitos. Cerita yang bedasarkan atas mitos disebut legenda.

Mitos itu timbul disebabkan antara lain karena keterbatasan alat indera manusia misalnya:

Alat Penglihatan

            Banyak benda-benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh mata. Mata tidak dapat membedakan benda-benda. Demikian juga jika benda yang dilihat terlalu jauh, maka tak mampu melihatnya.

 

 

 

  1. Alat Pendengaran

            Pendengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai frekuensi dari 30 sampai 30.000 perdetik. Getaran di bawah 30 atau di atas 30.000 perdetik tak terdengar.

 

  1. Alat Pencium Dan Pengecap

            Bau dan rasa tidak dapat memastikan benda yang dicecap maupun diciumnya . manusia hanya bisa membedakan 4 jenis masa yaitu rasa manis,asam ,asin dan pahit. Bau seperti farfum dan bau-bauan yang lain dapat dikenal oleh hidung kita bila konsentrasi di udara lebih dari sepersepuluh juta bagian. Melalui bau, manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang lain namun tidak semua orang bisa melakukannya.

 

  1. Alat Perasa

            Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas atau dingin namun sangat relatif sehingga tidak bisa dipakai sebagai alat observasi yang tepat. Alat-alat indera tersebut di atas sangat berbeda-beda, di antara manusia: ada yang sangat tajam penglihatannya, ada yang tidak. Demikian juga ada yang tajam penciumannya ada yang lemah. Akibat dari keterbatasan alat indera kita maka mungkin timbul salah informasi, salah tafsir dan salah pemikiran. Untuk meningkatkan kecepatan dan ketepatan alat indera tersebut dapat juga orang dilatih untuk itu, namun tetap sangat terbatas.

            Usaha-usaha lain adalah penciptaan alat. Meskipun alat yang dicipatakan ini masih mengalami kesalahan. Pengulangan pengamatan dengan berbagai cara dapat mengurangi kesalahan pengamatan tersebut. Jadi, mitos itu dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu karena:

  1. Keterbatasan pengetahuan yang disebabkan karena keterbatasan penginderaan baik langsung maupun dengan alat.
  2. Keterbatasan penalaran manusia pada masa itu.
  3. Hasrat ingin tahunya terpenuhi.

Menurut Auguste comte (1798-1857),dalam sejarah perkembangan jiwa manusia, baik sebagai individu maupun sebagai keseluruhan, berlangsung tiga tahap:

  1. Tahap teologi atau fiktif
  2. Tahap filsafat atau metafisik atau abstrak
  3. Tahap positif atau ilmiah riel

            Pada tahap teologi atau fiktif manusia berusaha untuk mencari atau menemukan sebab yang pertama dan tujuan yang terakhir dari segala sesuatu, dan selalu dihubungkan dengan kekuatan ghaib. Gejala alam yang menarik perhatiannya selalu diletakkan dalam kaitannya dengan sumber yang mutlak. Mempunyai anggapan bahwa setiap gejala dan peristiwa dikuasi dan diatur oleh para dewa atau kekuatan ghaib lainnya..

Mitos adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dan pemikiran sederhana serta dikaitkan dengan kepercayaan akan adanya kekuatan ghaib. Sehingga pengetahuan yang diperoleh bersifat subyektif.

Gempa bumi diduga terjadi karena Atlas (raksasa yang memikul bumi pada bahunya) memindahkan bumi dari bahu yang satu kebahu yang lain. Gerhana bulan diduga terjadi karena dimakan oleh raksasa. Menurut dongeng raksasa itu takut pada bunyi – bunyian, maka pada waktu gerhana bulan manusia memukul apa saja yang dapat menimbulkan bunyi. Supaya raksasa itu takut dan memuntahkan kembali bulan purnama. Bunyi guntur dikira ditimbulka oleh adanya kereta yang dikendarai dewa melintas langit.

Demikian pada tahap mitos atau tahap teologi ini manusia menjawab rasa ingin tahunya dengan menciptakan dongeng-dongeng atau mitos, karena alam pikirannya masih terbatas pada imajinasinya dan cara berpikir irasional.

Masyarakat dahulu dapat menerima mitos karena keterbatasan pengetahuan, pengalaman, dan pemikirannya.sedangkan hasrat ingin tahunya berkembang terus.

            Puncak hasil pemikiran seperti di atas terjadi pada zaman Babylona,yaitu kira-kira 700-600 SM. Pendapat orang Babylona tentang alam semesta antara lain adalah bahwa alam semesta merupakan suatu ruangan atau selungkup. Lantainya adalah bumi yang datar , sedangkan langit dengan bintangnya merupakan atapnya. Dilangit ada semacam jendela yang memungkinkan air hujan dapat sampai ke bumi. Namun yang menakjubkan mereka telah mengenal bidang ekleptika sebagai bidang edar matahari dan menetapkan perhitungan satu tahun yaitu satu kali matahari beredar ketempat semula, yaitu 365,25 hari. Pengetahuan dan ajaran tentang orang Babilonia setengahnya merupakan dugaan, imajinasi, kepercayaan atau mitos pengetahuan semacam ini disebut Pseudo science (sains palsu)

Karena kemampuan berpikirnya manusia semakin maju dan disertai pula oleh perlengkapan pengamatan, misalnya teropong bintang, mitos dengan berbagai legendanya makin ditinggalkan, dan mereka cendrung menggunakan akal sehat dan rasionya.

 

2.4.    POLA PIKIR MANUSIA.

            Dalam al Qur’an banyak kita jumpai bahasa dan bahasan logika yang disampaikan sesuai dengan pola pikir dan pemikiran manusia. Banyak konsep-konsep yang bagi orang yang mempelajari Islam sekarang ini dianggap aneh dan tidak masuk akal. Seperti ayat quran yang seolah-olah menyatakan tentang langit sebagai bahan yang material yang keras. Padahal menurut penelitian sekarang tidak ada wujud material keras atau benda padat disitu. Banyak ayat-ayat al Qur’an yang menyatakan seolah-olah bertolak belakang dengan pemikiran dan logika sementara manusia. Banyak ayat yang mengatakan bahwa langit sebagai atap. Kalau atap berarti suatu pelindung di bagian atas yang berfungsi untuk melindungi dari panasnya sinar matahari dan melindungi dari kebasahan oleh air hujan jika terjadi hujan.

Seperti ayat qur’an yang tercantum dalam ayat 22 dari surat Al Baqoroh berikut ini:

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

”Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah30, padahal kamu mengetahui”.(QS Al Baqarah ayat 22).

            Jika dianggap sebagai atap, maka seperti atap rumah, adalah suatu material yang keras, yang dapat melindungi. Tetapi menurut ilmu pengetahuan sekarang tidak ditemukan material yang keras di atas sana, melainkan tembus kesuatu ruang angkasa luas, yang tak terhingga luasnya. Allah swt tidak menyebutkan bahwa langit itu adalah material yang keras, atau padat, sehingga tidak dapat pula disalahkan. Jika dipahami secara harfiah, kata atap berarti menurut pemahaman arab jahiliyah dahulu tentunya benda padat yang digunakan dapat melindungi dari panas matahari dan hujan. Melindungi dari salju dan badai. Seperti atap-atap bangunan istana raja-raja pada zaman nabi muhammad saw dilahirkan, Raja Persia Aiywan Kisra (227M), yang atap istananya yang terbuat dari batu-bata dan tanah liat itu retak dan menara-menara istananya rubuh karena gempa yang dasyat menimpa Persia tepat ketika nabi Muhammad saw dilahirkan.

Allah SWT tidak secara langsung mengatakan bahwa langit merupakan material keras, tetapi secara tersembunyi atau tersirat, ada mengatakan demikian. Tetapi hal tersebut, hanya dapat ditemui sebagai kesalahan atas logika yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan sekarang, jika ia ditafsirkan sebagai atap yang berwujud material keras! Jika seandainya ada atap yang tidak berwujud material, tetapi fungsinya seperti atap, yaitu melindungi dari gangguan dan bahaya yang datang dari luar atau atas, maka, Allah SWT tidak salah!

Allah SWT secara tersirat juga menegaskan bahwa langit yang dimaksud sebagai atap, tetapi tidak ada wujud material diatas sana! Dengan mengatakan bahwa atap tersebut tidak berpengaruh daya tarik bumi, beratnya nol gram, sehingga tidak diperlukan tiang penyangga dibawahnya untuk menahan supaya tidak rubuh!

خَلَقَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا وَأَلْقَى فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمْ وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنبَتْنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوْجٍ كَرِيمٍ

”Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembang biakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik”. (QS Luqman ayat 10)

            Juga Allah menegaskan bahwa langit tersebut bukanlah berwujud material yang padat! Jika demikian, maka material yang padat akan timbul retak-retak karena kekuatan ikatan sejenis antara benda-benda padat tersebut tidak sama sehingga akan timbul retak-retak. Tetapi langit tidak retak-retak! Berarti langit bukan benda padat.

     أَفَلَمْ يَنظُرُوا إِلَى السَّمَاء فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِن فُرُوجٍ

”Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ”?(QS Qof ayat 6)

 

       الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقاً مَّا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِن تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِن فُطُورٍ

”Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang”?(QS Mulk ayat 3)

Mengapa Allah swt melakukan silat lidah seperti itu? Mengapa Ia tidak mengatakan saja terus terang bahwa langit adalah suatu ciptaanya yang berfungsi sebagai pelindung, dan tidak berwujud material padat? Melainkan hal yang lain dari pada itu!? Seperti Gas, Medan Magnet, dan sebagainya!

            Beginilah gaya Allah swt menyampaikan wahyunya, agar wahyunya tidak ditolak oleh orang dahulu, jahiliyah yang mengecap masa modren, yang belum melihat dan mengetahui bagaimana langit sebenarnya! Orang jahiliyah juga hanya percaya atas apa yang ia lihat! Dan tidak percaya pada apa yang belum pernah ia lihat, dan tidak masuk akal olehnya. Tidak mungkin Allah swt menurunkan ayat Al Qur’an seperti “selidikilah pakai pesawat ulang alik, kamu akan menemukan bukti bahwa langit dapat melindungi bumi dari benda-benda angkasa luar!” Tidak mungkin diterima oleh bangsa Arab Jahiliyah saat al Qur’an diturunkan.

Agar juga orang yang datang sesudahnya, yang sudah mengenal peralatan modren, tidak membantah atau mempertanyakan tentang kebenarannya. Yang tidak masuk akal oleh orang terdahulu, menjadi kenyataan ilmiah sekarang ini.

Kontekstualisasi Teks

            Saya paham betul apa maksudnya ketika isu tentang HAM dikoar-koarkan di Aceh, dan ujung-ujungnya syariat Islam tidak boleh bertentangan dengan HAM. Ini adalah bagian dari upaya kontekstualisasi teks, di mana konteks dijadikan sebagai pijakan dasar. Pemahaman berpusat pada konteks. Mereka bergerak dari konteks menuju teks. Maka jangan heran jika hari ini kita sering mendengar dan membaca, syariat Islam dalam perspektif HAM, al-Quran menurut perempuan, atau Hudud dalam pandangan HAM, dan lain-lainnya. Di mana seharusnya HAM menurut Islam, atau perempuan menurut al-Quran. Di sini penilainya sudah dibalik, yang seharusnya agama dirubah menjadi manusia.

Pola pikir seperti ini begitu dibangga-banggakan oleh kaum rasionalis. Dalam tulisannya Islam Instan di Era Syariat, TMJS menyebutkan, “Sejarah rasionalisme adalah sejarah humanisme. Sebelumnya manusia sering dijadikan persembahan-persembahan untuk para dewa, sering dijadikan budak-budak yang bisa ditukar dan diperjual belikan layaknya barang material. Sehingga paska era buram ini, penghargaan terhadap manusia begitu tinggi dengan imbas rasionalitas manusia dijadikan sebagai ukuran kebenaran”.

            Pertanyaan saya kepada siapapun yang membaca tulisan ini, kalau manusia menjadi ukuran kebenaran, lalu di mana posisi Tuhan dan Nabi? Di mana wahyu Tuhan dan hadis Nabi yang berbicara tentang kebenaran. Kalau begitulah adanya maka wajar jika kemudian TMJS dan yang seide dengannya lebih mengikut apa kata HAM daripada al-Quran. Sebab HAM dirumuskan berdasarkan pola pikir dan olah otak manusia, bukannya berdasarkan wahyu Tuhan dan hadis Nabi. Sejatinya rasionalitas kini telah menjadi Tuhan bagi mereka. Maka bukan suatu yang aneh jika beberapa penulis menilai rasionalisme sebagai upaya menuju ‘atheisme’.

            Islam adalah agama yang menjunjung tinggi akal dan rasionalitas. Ayat-ayat dalam al-Quran sebagian besarnya ditujukan kepda mereka yang berakal. Tetapi dengan rasio dan akalnya manusia dituntut untuk mengkaji ayat-ayat Tuhan baik itu qauliyah maupun kauniyahatheis dan melupakan Tuhan.

            Kepada TMJS, apakah anda sudah baca dengan benar sejarah Barat moderen dan pasca moderen? Sebuah pertanyaan ontologis, mengapa rasionalisme muncul di Barat bukannya di Aceh, lalu muncul empirisme, berturut-turut sekularisme, sampai pada fase pragmatisme. Lalu ketika beralih ke era posmo, Barat kembali memunculkan sejumlah konsep busuknya, seperti nihilisme, relativisme, pluralisme, multikulturalisme, sampai dengan liberalisme. Adakah sejarah umat Islam sama dengan mereka sehingga harus mengikuti semua isme tersebut?

 

Humanisme atau Islami

            Saya kutip kembali tulisan TMJS yang menyebutkan, Islam itu juga punya nilai-nilai universal seperti keadilan, kesetaraan, kemakmuran, ini yang universal dan ada dimana-mana”. Membaca pernyataan tersebut saya jadi ingat dengan filsafat parenial yang belakangan ini marak disuarakan oleh sejumlah kalangan. Mereka mengatakan bahwa semua agama menyimpan nilai-nilai universal yang tidak berbeda antara satu agama dengan yang lain. Saya sadar betul bahwa filsafat parenial dimunculkan tidak lain adalah untuk membeck up dan menguatkan posisi pluralisme.

            Kita mengakui bahwa dalam semua agama memiliki ajaran dan nilai-nilai yang secara zahir sama antara satu dengan lainnya. Tetapi apakah dengan mengiyakan, lalu kitapun mengatakan bahwa semua agama sama? Atau dalam DUHAM misalnya, ada sejumlah nilai kemanusiaan yang diperjuangkan dan dibela, lalu kitapun mengiyakan HAM? Tunggu dulu. Saya ingin pertegas bahwa ketika orang Yahudi atau Kristen bicara keadilan, itu belum tentu sama dengan keadilan yang dipahami dalam Islam, begitu juga dengan agama-agama lain. Kita hanya sama pada tataran ‘nama’ tetapi subtansi dan esensinya berbeda dan takkan pernah sama.

            Bicara soal nilai, sesungguhnya agama ini telah sesak dengan nilai, tak perlulah kita mengambil nilai dari Barat atau HAM. Kita tak pernah kekurangan sedikitpun dari itu. Kenapa kita tidak pernah bangga dengan nilai kita sendiri? Mengapa nilai kita umat Islam yang digagas oleh Tuhan harus sama dengan nilai yang digagas oleh manusia yang tak mengenal Tuhan (Barat)? Bacalah sejarah umat Islam ketika menguasai negeri Spanyol  selama hampir delapan ratus tahun lamanya. Mereka bukan tidak pernah bersentuhan dengan orang-orang di luar mereka. Ingatkah kita akan sejarah pergumulan Nabi dengan orang-orang Yahudi di Madinah? Tetapi adakah Nabi kita mengikuti cara mereka? Jangankan dalam soal pikiran dan keyakinan, dalam soal penampilan sekalipun Nabi tampil beda dengan Yahudi, padahal itu tidaklah prinsip. Tetapi begitu ia berada di darat mudah sekali diasinkan. Ia cukup direndam sehari saja dalam seember air asin, maka keesokannya asinlah ia, mengapa? Zainuddin MZ dalam sebuah pengantar ceramahnya mengatakan, karena yang di laut masih hidup, tetapi yang di darat sudah mati. Tahulah diri kita kini, hidup atau mati.

 

2.5.    KETERBATASAN, ALAT INDERA

Allah SWT telah berfirman dalam Al-Quran :

 

 

 

 

 

 

 

”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (Agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan hatimu. Lalu menjadilahkamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara ; dan kamu telah berada ditepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (Ali Imron : 103).

 

            Ayat tersebut sudah ada empat belas abad yang lalu, akan tetapi sebagian besar kaum muslimin hanya menjadikannya sebagai bacaan saja. Lalu pada tahun 1956 muncullah Tanbiih Pendiri Pondok Pesantren Suryalaya, yang mengatakan Ulah aya kabengkahan jeung sadayana (jangan ada keretakan dengan sesamanya). Akan tetapi Tanbih inipun hanya sekedar dijadikan wacana bacaan saja oleh mayoritas ikhwan TQN di setiap acara manakiban. Mayoritas dari kita belum mampu melaksanakan dalam realitas kita.

            Mengapa manusia sanggup menerima al-Quran ? Karena hanya manusia yang diberi piranti untuk melaksanakannya, sebagaimana dijelaskan al-Quran bahwa Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati agar bersyukur. Jelaslah bahwa keunggulan manusia dari makhluk lain dikarenakan manusia diberi 3 piranti utama oleh Allah yang tidak diberikan kepada makhluk lain. Ketiga piranti tersebut adalah :

 

  1. 1.      Pendengaran (Telinga)

Telinga adalah salah satu alat indra yang dibutuhkan oleh manusia dalam mengetahui ayat-ayat Allah, baik yang dimuka bumi, di langit atau yang ada dalam dirinya sendiri. Akan tetapi ayat-ayat Allah yang mampu diterima oleh telinga ini sangat terbatas, sebagaimana dijelaskan Sayyidina Ali bin Abi Thalib : Apabila suatu nasihat dikeluarkan oleh hati Insya Allah akan diterima (masuk) oleh hati, sedangkan apabila suatu nasehat hanya dikeluarkan oleh mulut, maka akan diterima oleh telinga saja.

  1. 2.                  Penglihatan (Mata)

Mata merupakan indra untuk utama yang dapat melihat secara langsung ayat-ayat Allah, baik yang bersifat ayat Quraniyah maupun ayat-ayat Kauniyah.

Akan tetapi mata ini kadang kala tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jelek, sehingga ada istilah semut diujung sana kelihatan, sedangkan gajah dipelupuk mata tidak kelihatan

  1. 3.      Hati Nurani

Maka untuk melengkapi kekurangan kedua alat indra tersebut, Allah memberi hati (qalbu) kepada manusia. jAdi bukan hanya sekedar akal saja. Ini diisyaratkan oleh sebuah kata hikmah :Barangsiapa yang bertambah ilmu tidak bertambah hidayahnya, maka ia tidak akan bertambah dekatnya kepada Allah malahakan bertambah jauh.

Fungsi utama dari hati ini adalah untuk menerima hidayah dari Allah Taala. Tentunya yang bisa menerima hidayahitu adalah hati yang bersih (suci) dari berbagai macam penyakit hati atau najis maknawi.

Adapun inti utama jaran yang diberikan Guru Mursyid Kamil kita adalah alat untuk membersihkan hati sehingga hati kita tidak terkontaminasi oleh berbagai penyakit serta tidak dikuasai oleh syetan. Caranya tidak lain dengan mempergunakan hati kita untuk berdzikir kepada Allah SWT. Karena kalau kita

tidak mau mempergunakan hati kita untuk berdzikir kepada Allah, maka Allah telah mengamcamnya :

 

 

 

”Dan sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka jaham) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itubagaikan binatang ternak,bahkan mereka lebihsesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai (lupa untuk berdzikir kepada Allah)”. (Al-Arof : 179).

            Kita sebagai ikhwan TQN PP. Suryalaya, kalau berpegang teguh kepada ajaran yang diberikan oleh Guru Mursyid kita, Insya Allah tidak akan terjadi keretakan dan persengketaan (kabengkahan) diantara kita semuanya. Karena kita diikat oleh satu Guru Mursyid dan Talqin.

Kenapa kita tidak bersatu sekarang ? Bahkan kondisi negara kita sekarang sangat mengkhawatirkan ? Karena ummat Islam Indonesia baru menjadikan al-Quran hanya sekedar wacana bacaan, belum dilaksanakan seutuhnya. Untuk itu kita perlu menjadikan Tanbih sebagai pedoman kehidupan sehari-hari kita, bukan sekedar wacana bacaan saja. Kita perlu bersatu padu agar tidak terjadi kabengkahan. Kita harus mengamalkan Tanbih dalam kehidupan sehari-har

Marilah kita ikuti dan mencontoh Guru Mursyid kita yang menjadi panutan dan figur kita, sebagaimana diperintahkan Allah dalah surat Luqman ayat 15 : Ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku. Kita semuanya, mubaligh, doisen, guru. Pekerja, ikhwan biada adalah dalam rangka hidmat kepada Guru Mursyid harus satu misi dan satu visi.

 

2.6.    SEJARAH PERKEMBANGAN JIWA MANUSIA.

  1. A.     Manusia Merupakan Makhluk Allah Swt Yang Diciptakan Dalam Bentuk Yang Paling Baik

            Sesuai dengan hakikat wujud manusia dalam kehidupan di dunia, yakni melaksanakan tugas kekhalifahan dalam kerangka pengabdian kepada Sang Maha Pencipta, Allah swt. Sebagai khalifah-Nya di muka bumi, manusia diberi amanah untuk memberdayakan seisi alam raya dengan sebaik-baiknya demi kesejahteraan seluruh mahluk. Berkaitan dengan ruang lingkup tugas-tugaskhalifah ini, Allah SWT berfirman:

 

 

 

 

“Orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi ini, niscaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar” (QS. al-Hajj/22:41)

            Ayat tersebut menyatakan bahwa mendirikan shalat merupakan refleksi hubungan yang baik dengan Allah swt, menunaikan zakat merupakan refleksi dari keharmonisan hubungan dengan sesama manusia, sedangkan ma’ruf berkaitan dengan segala sesuatu yang dianggap baik oleh agama, akal, serta budaya, dan munkar adalah sebaliknya. Dengan demikian, sebagai seorang khalifah Allah di muka bumi, manusia mempunyai kewajiban untuk menciptakan suatu masyarakat yang hubungannya dengan Allah baik, kehidupan masyarakatnya harmonis serta agama, akal, dan budayanya terpelihara.

            Untuk mencapai tujuan suci tersebut, Allah swt menurunkan Alquran sebagai hidayah yang meliputi berbagai persoalan akidah, syariah, dan akhlak demi kebahagiaan hidup seluruh umat manusia di dunia dan akhirat. Berbeda halnya dengan akidah dan akhlak yang merupakan dua komponen ajaran Islam yang bersifat konstan, tidak mengalami perubahan apa pun seiring dengan perbedaan tempat dan waktu, syariah senantiasa berubah sesuai dengan kebutuhan dan taraf peradaban umat. Allah swt berfirman:

 

 

 

 

 

 

“Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang” (QS. Al-Maidah/5:48)

            Sebagai penyempurna risalah-risalah agama terdahulu, Islam memiliki syariah yang sangat istimewa, yakni bersifat komprehensif dan universal. Komprehensif berarti syariah Islam merangkum seluruh aspek kehidupan, baik ritual (ibadah) maupun sosial (muamalah), sedangkan universal berarti syariah Islam dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat sampai Yaum al-Hisab nanti. Dalam pada itu, Alquran tidak memuat berbagai aturan yang terperinci tentang syariah yang dalam sistematika hukum Islam terbagi menjadi dua bidang, yakni ibadah (ritual) dan muamalah (sosial). Hal ini menunjukkan bahwa Alquran hanya mengandung prinsip-prinsip umum bagi berbagai masalah hukum dalam Islam, terutama sekali yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat muamalah.

            Bertitik tolak dari prinsip tersebut, Nabi Muhammad saw menjelaskan melalui berbagai hadisnya. Dalam kerangka yang sama dengan Alquran, mayoritas hadis Nabi tersebut juga tidak bersifat absolut, terutama yang berkaitan dengan muamalah. Dengan kata lain, kedua sumber utama hukum Islam ini hanya memberikan berbagai prinsip dasar yang harus dipegang oleh umat manusia selama menjalani kehidupan di dunia. Adapun untuk merespon perputaran zaman dan mengatur kehidupan duniawi manusia secara terperinci, Allah swt menganugerahi akal fikiran kepada manusia.

 

  1. B.      Kedudukan Akal dalam Islam serta Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan.

            Dalam pengertian Islam, akal merupakan daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia, yaitu daya memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitar. Tidak jarang ayat-ayat Alquran mengandung anjuran, dorongan, bahkan perintah agar manusia banyak berfikir dan mempergunakan akalnya, diantaranya adalah firman Allah swt:

 

 

 

 

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran” (QS. Shad/38:29)

            Seperti halnya Alquran, Rasulullah saw juga menempatkan ajaran berfikir dan mempergunakan akal sebagai ajaran yang jelas dan tegas. Dalam hadisnya yang telah disebutkan, Rasulullah saw menyerahkan berbagai urusan duniawi yang bersifat detail dan teknis kepada akal manusia.

            `Kedua nash tersebut menunjukkan bahwa akal mempunyai kedudukan yang sangat penting dan tinggi dalam ajaran agama Islam. Sejalan dengan hal ini, Islam memerintahkan manusia untuk mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Inilah letak korelasi yang erat antara Alquran sebagai kitab petunjuk umat manusia dengan ilmu pengetahuan.

            Alquran tidak menginginkan masyarakat yang dibentuknya memandang atau menilai al-fikrah al-qur’aniyyah (ide yang dibawa oleh Alquran) hanya terbatas pada fase penilaian berdasarkan keteladanan seseorang. Allah swt berfirman:

 

 

 

 

 

 

 

“Muhammad tiada lain kecuali seorang Rasul. Sebelum dia, telah ada rasul-rasul. Apakah jika sekiranya dia mati atau terbunuh, kamu berpaling ke agamamu yang dahulu? Siapa-siapa yang berpaling menjadi kafir, ia pasti tidak merugikan Tuhan sedikitpun dan Allah akan memberikan ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur kepada-Nya” (QS. Ali Imran/3:144)

            Menurut Quraish Shihab, walaupun dalam bentuk istifham, ayat tersebut menunjukkan istifham taubikhi istinkary (pertanyaan yang mengandung kecaman, sekaligus larangan untuk melakukannya) yang berarti larangan menempatkan al-fikrah al-qur’aniyyah hanya sampai pada fase ini. Ayat tersebut merupakan dorongan kepada masyarakat untuk lebih meningkatkan pandangan dan penilaiannya terhadap suatu ide ke tingkat yang lebih tinggi, yakni fase kedewasaan atau fase penilaian ide berdasarkan nilai-nilai yang terdapat pada unsur-unsur ide itu sendiri, tanpa terpengaruh oleh faktor-faktor eksternal yang menguatkan atau melemahkannya. Ayat ini juga melepaskan belenggu-belenggu yang dapat menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dalam alam fikiran manusia.

            Kandungan ayat tersebut dan ayat-ayat lain yang semisal telah menciptakan iklim baru dalam masyarakat dan mewujudkan udara yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan. Sebagai hasilnya, muncul para cendekiawan Muslim di berbagai bidang, termasuk ekonomi. Pemikiran-pemikiran mereka sangat mendominasi peradaban dunia selama hampir delapan abad, yakni sejak abad VII hingga abad XIII Masehi. Mereka melahirkan berbagai teori ilmu hanya untuk menyatakan kemahabesaran Allah swt.

  1. C.     Membahas Hubungan Antara Al-Quran Dengan Ilmu Pengetahuan Atau Pola Pikir Manusia

            Membahas hubungan antara al-Quran dengan ilmu pengetahuan atau pola pikir manusia, bukan dengan melihat, misalnya, adakah teori relativiti atau perbahasan tentang angkasa atau ilmu komputer terkandung di dalam al-Quran; tetapi yang lebih utama adalah melihat adakah jiwa ayat-ayatnya mendorong kemajuan ilmu pengetahuan atau sebaliknya, serta adakah satu ayat al-Quran yang bertentangan dengan hasil penemuan ilmiah yang telah mantap? Dengan kata lain, meletakkannya pada sisi social psychology(psikologi sosial), bukan pada sisi history of scientific progress (sejarah perkembangan ilmu pengetahuan).

            Anggaplah bahawa setiap ayat daripada keseluruhan 6,226 ayat yang terkandung dalam al-Quran (menurut perhitungan ulama Kufah) mengandungi suatu teori ilmiah, kemudian apa hasilnya? Apakah manfaat yang diperoleh dengan mengetahui teori-teori tersebut apabila masyarakat tidak diberi “hidayah” atau petunjuk bagi kemajuan ilmu pengetahuan atau menyingkirkan hal-hal yang menghalangnya?

Malik bin Nabi di dalam bukunya Intaj Al-Mustasyriqin wa Atsaruhu fi Al-Fikriy Al-Hadits, menulis: “Ilmu pengetahuan adalah sekumpulan masalah serta sekumpulan metode yang dipergunakan menuju tercapainya masalah tersebut. Selanjutnya beliau menerangkan: “Kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya terbatas dalam bidang-bidang tersebut, tetapi bergantung pula pada sekumpulan syarat-syarat psikologi dan sosial yang mempunyai pengaruh negatif dan positif sehingga dapat menghalang kemajuan ilmu pengetahuan atau mendorongnya lebih jauh.” Ini menunjukkan bahawa kemajuan ilmu pengetahuan tidak hanya dinilai dengan apa yang dipersembahkannya kepada masyarakat, tetapi juga diukur dengan wujudnya suatu suasana yang dapat mendorong kemajuan ilmu pengetahuan itu.

            Sejarah membuktikan bahawa Galileo, ketika mengungkapkan penemuannya bahawa bumi ini beredar, tidak dikawal daripada suatu lembaga ilmiah. Bagaimanapun, masyarakat di sekelilingnya ketika itu menentang penemuannya itu atas dasar-dasar kepercayaan dogma, sehingga Galileo akhirnya menjadi ‘korban penemuannya sendiri’. Hal ini adalah akibat belum terwujudnya syarat-syarat sosial dan psikologi yang disebutkan di atas. Dari segi inilah kita dapat menilai hubungan al-Quran dengan ilmu pengetahuan.

            Di dalam al-Quran terkandung ayat-ayat yang menganjurkan untuk mempergunakan akal fikiran dalam memahami dan melakukan sesuatu perkara. Allah S.W.T berfirman :

 

 

 

 

 

Yang bermaksud : Katakanlah (wahai Muhammad): “Sesungguhnya Tuhanku memewahkan rezeki bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya, dan Dia juga yang menyempitkan (bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya); akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (hakikat itu).” (Surah Saba’: 36).

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. KESIMPULAN

Ajaran islam sangat penting menghargai ilmu pengetahuan, ayat –ayat Al-guran banyak dekali memberi motivasi untuk intzhar/ meneliti baik secara terserat atau tersirat.

Pengembangan ilmu pengetahuan secara unum dan ilmu alam secara khusus, sejalan dengan ajaran islam yang mengiginkan kemudahan dan kesejahteraan manusia.

Pengembangan ilmu pengethuan dan ilmu pengetahuan alam yang berrtujuan untuk kepentingan pribadi dan atau kelompok , tanpa mengiraukan kepeingan orang lain , bertentangan dengan tujuan islam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSAKA

 

 

ochelandking.blogspot.com/2010/…/ilmu-kealaman-dasar.html

 

Quran web

           

id.wikipedia.org/wiki/Ilmu_alam

 

mediabilhikmah.multiply.com/journal/item/159 – Filipina .

 

related:www.harunyahya.com/indo/buku/darwinisme01.htm

 

http://www.harunyahya.com/indo/buku/menyingkap007.htm

 

By Acehmillano Ganto Posted in MAKALAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s