FAKTOR PRODUKSI EKONOMI


BAB I

PENDAHULUAN

1.1.LATAR BELAKANG

            Kegiatan produksi membutuhkan input-input yang disebut faktor produksi. Meskipun tidak terdapat kesepakatan baku, tetapi faktor produksi biasanya terdiri atas alam, modal, tenaga kerja dan kewirausahaan. Permasalahan pokok dalam faktor produksi ini adalah: (1) bagaimana hubungan antar satu faktor produksi dengan lainnya, termasuk menentukan apa yang lebih penting dan yang lebih dahulu berperan dalam produksi, dan (2) bagaimana menentukan harga, yaitu harga faktor produksi itu sendiri maupun kaitan antara faktor produksi dengan harga output.

            Bagian awal pada bab ini menyajikan prinsip dasar alokasi sumber daya ekonomi untuk mewujudkan kegiatan produksi yang sesuai dengan ajaran Islam. Selanjutnya dibahas masalah klasifikasi faktor produksi, baik dalam perspektif ekonomi konvensional maupun perspektif para ekonom muslim. Bab ini juga menyajikan kritik terhadap pendekatan produk marjinal yang biasa digunakan sebagai pedoman pengelolaan faktor produksi dalam ekonomi konvensional. Pada bagian akhir dibahas prinsip-prinsip penentuan harga faktor produksi. Prinsip keadilan dan pertimbangan terhadap scarcity merupakan pedoman dasar dalam factor pricing ini.

Ketika kita membahas contoh pembuatan mobil, pesawat terbang, dan senjata nuklir pada bagian pendahuluan, kita ketahui bahwa ketiga barang tersebut memerlukan bahan-bahan berupa komponen, suku cadang, serta tenaga ahli untuk mewujudkannya. Komponen, suku cadang dan tenaga ahlil adalah bagian dari faktor produksi. Seorang dokter ingin berpraktik pun perlu memiliki ruangan, kursi, tempat tidur pasien, peralatan kedokteran, serta tenaga asisten. Semua yang diperlukan dokter itupun termasuk kedalam faktor produksi. Jelas bahwa kegiatan produksi dapat berlangsung jika tersedia faktor-faktor produksi.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1.    FAKTOR PRODUKSI ALAM

Alam merupakan salah atau faktor produksi yang sangat penting, bahkan bersamaan dengan tenaga kerja seringkali dianggap paling penting. Alam telah memberikan banyak faktor produksi, misalnya tanah dan segala zat yang ada didalamnya maupun di permukaannya, udara dan segala yang ada di angkasa, dan lain-lain.Tidaklah mengherankan kalau tokoh pemikir Barat pada abad ke 17, Sir William Pretty, mengatakan bahwa ‘tanah adalah ibu dari produksi, sementara tenaga kerja adalah ayahnya’ (Samuelson, 1989, h. 235). Alam telah menyediakan berbagai jenis barang atau zat yang secara langsung dapat dikonsumsi atau kemudian diproses dalam produksi sebagai bahan baku.

Pada dasarnya alam merupakan faktor produksi yang bersifat asli, sebab merupakan anugerah Allah yang secara alamiah diberikan kepada manusia. Ia ada bukan karena dibuat oleh manusia, tetapi manusia sekedar mengeksplorasinya. Alam juga merupakan faktor produksi asal, sebab dari alamlah kemudian segala jenis kegiatan produksi berlangsung.

  1. a.      Tanah

Tanah antara lain digunakan untuk lahan pertanian, perkebunan, medirikan pabrik atau perkantoran, jalan raya, dan keperluan lainnya. Tanah ada juga yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan benda tertentu. Misalnya, tanah dapat digunakan sebagai bahan baku pabrik batu bata dan genteng.

  1. b.      Air

Air merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting bagi umat manusia. Selain untuk minum, mandi, atau memasak, air juga digunakan sebagai alat pembangkit tenaga listrik, sebagai sarana angkutan air, dan usaha perikanan.

 

  1. c.       Sinar Matahari

Sinar matahari dibutuhkan untuk keberlangsungan tumbuh-tumbuhan dan kehidupan manusia. Selain itu, sinar matahari juga digunakan sebagai sumber tenaga listrik.

  1. d.      Udara

Udara digunakan untuk kincir angin, penyegar ruangan, sarana perhubungan udara, dan menunjang kesuburan tanah.

  1. e.       Barang Tambang

Barang tambang seperti minyak, batubara, emas, intan, mineral, dan barang tambang lainnya sangat berguna bagi kehidupan manusia.

2.2. FAKTOR PRODUKSI TENAGA KERJA

Tenaga kerja merupakan faktor produksi insani  yang secara langsung maupun tidak langsung menjalankan kegiatan produksi. Faktor produksi tenaga kerja juga dikategorikan sebagai faktor produksi asli. Dalam faktor produksi tenaga kerja, terkandung unsur fisik, pikiran, serta kemampuan yang dimiliki oleh tenaga kerja. Oleh karena itu, tenaga kerja dapat dikelompokan berdasarkan kualitas (kemampuan dan keahlian) dan berdasarkan sifat kerjanya.

  1. a.      Tenaga Kerja Menurut Kwalitas Tenaga Kerja
  • Tenaga Kerja Terdidik

Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang memerlukan pendidikan tertentu sehingga memiliki keahlian di bidangnya, misalnya dokter, insinyur, akuntan, dan ahli hukum.

  • Tenaga Kerja Terampil

Tenaga kerja terampil adalah tenaga kerja yang memerlukan kursus atau latihan bidang-bidang keterampilan tertentu sehingga terampil di bidangnya. Misalnya tukang listrik, montir, tukang las, dan sopir.

  • Tenaga Kerja Tidak Terdidik Dan Tidak Terlatih

Sementara itu, tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih adalah tenaga kerja yang tidak membutuhkan pendidikan dan latihan dalam menjalankan pekerjaannya. Misalnya tukang sapu, pemulung, dan lain-lain.

  1. b.      Tenaga Kerja Menurut Sifat Kerja
  • Tenaga Kerja Rohani

Tenaga kerja rohani adalah tenaga kerja yang menggunakan pikiran, rasa, dan karsa. Misalnya guru, editor, konsultan, dan pengacara.

  • Tenaga Kerja Jasmani

Sementara itu, tenaga kerja jasmani adalah tenaga kerja yang menggunakan kekuatan fisik dalam kegiatan produksi. Misalnya tukang las, pengayuh becak, dan sopir.

2.3.FAKTOR PRODUKSI MODAL

Yang dimaksud dengan modal adalah barang-barang  atau peralatan yang dapat digunakan untuk melakukan proses produksi. Modal dapat digolongkan berdasarkan sumbernya, bentuknya, berdasarkan pemilikan, serta berdasarkan sifatnya.

  1. a.      Pembagian Modal Atas Dasar Sumber

(1)   Modal sendiri adalah modal yang berasal dari dalam perusahaan  sendiri. Misalnya setoran dari pemilik perusahaan.

(2)   Modal asing adalah modal yang bersumber dari luar perusahaan. Misalnya modal yang berupa pinjaman bank.

  1. b.      Pembagian Modal Atas Dasar Bentuk
  • Modal konkret adalah modal yang dapat dilihat secara nyata dalam proses produksi. Misalnya mesin, gedung, mobil, dan peralatan.
  • Sedangkan yang dimaksud dengan modal abstrak adalah modal yang tidak memiliki bentuk nyata, tetapi mempunyai nilai bagi perusahaan. Misalnya hak paten, nama baik, dan hak merek.
  1. Pembagian Modal Atas Dasar Pemilikan

(1)   Modal Individu adalah modal yang sumbernya dari perorangan dan hasilnya menjadi sumber pendapatan bagi pemiliknya. Contohnya adalah rumah pribadi yang disewakan atau bunga tabungan di bank.

(2)   Sedangkan yang dimaksud dengan modal masyarakat adalah modal yang dimiliki oleh pemerintah dan digunakan untuk kepentingan umum dalam proses produksi. Contohnya adalah rumah sakit umum milik pemerintah, jalan, jembatan, atau pelabuhan.

  1. Pembagian Modal Menurut Sifat

(1)   Modal tetap adalah jenis modal yang dapat digunakan secara berulang-ulang. Misalnya mesin-mesin dan bangunan pabrik.

(2)   Sementara itu, yang dimaksud dengan modal lancar adalah modal yang habus digunakan dalam satu kali proses produksi. Misalnya, bahan-bahan baku.

2.4. FAKTOR PRODUKSI KEAHLIAN

Faktor produksi terakhir  yang tidak kalah penting adalah keahlian (skill) atau faktor produksi kewirausahaan (entrepreneurship). Sebanyak dan sebagus apapun faktor produksi alam, tenaga kerja dan modal yang dipergunakan dalam proses produksi, jika dikelola dengan tidak baik, hasilnya tidak akan maksimal. Jadi, faktor produksi keahlian adalah keahlian atau keterampilan yang digunakan seseorang dalam mengkoordinir faktor-faktor produk untuk menghasilkan barang dan jasa.

2.5. TEORI PRODUKSI

Dari uraian  sebelumnya kita dapat melihat bahwa benda produksi merupakan hasil kombinasi dari faktor-faktor produksi. Dari penggabungan berbagai faktor produksi yang biasa disebut juga sebagai masukan (input), dihasilkan hasil produksi yang disebut keluaran (output). Kita ambil contoh sekarung tepung. Tepung merupakan bahan baku  yang manfaatnya baru terasa bila telah diubah menjadi roti, usaha pembuatan tepung menjadi roti merupakan kegiatan produksi. Tapi, tidaklah mudah mengubah bahan baku mejadi barang siap konsumsi untuk dapat melakukan kegiatan produksi seorang produsen membutuhkan faktor-faktor produksi.

  1. A.    Klasifikasi Faktor Produksi

Sebelumnya telas dijelaskan bahwa faktor produksi terdiri dari faktor produksi alam, tenaga kerja, modal dan kewirausahaan. Tetapi untuk tujuan analisis proses produksi, faktor produksi (input) dapat dibedakan atas faktor produksi tetap dan faktor produksi variabel. Faktor produksi tetap adalah faktor produksi yang tidak dapat diubah jumlahnya dalam waktu tertentu. Faktor produksi ini dapat diubah, tetapi dengan biaya sangat besar dan biasanya dalam jangka panjang. Contohnya gedung, mesin, dan kenderaan. Faktor produksi variabel adalah faktor produksi yang dapat di ubah dengan cepat dalam jangka yang pendek. Contohnya adalah tenaga kerja dan bahan baku.

Pada dasarnya tidak ada sebuah kesepakatan yang bulat tentang klasifikasi faktor produksi, baik di kalangan ekonom konvensional maupun ahli ekonom Islam. Perbedaan klasifikasi faktor produksi ini dilatarbelakangi oleh banyak faktor, misalnya ketidaksamaan tentang definisi, karakteristik, maupun peran dari masing-masing faktor produksi dalam menghasilkan output. Menurut Al Junaid (1992, p.261) perbedaan ini juga timbul karena adanya perbedaan elastisitas dalam penawaran faktor produksi, karakter intrinsiknya, serta bentuk harga atau biaya atas suatu faktor produksi.

  1. B.     Fungsi Produksi Jangka Pendek

Sebagai langkah permulaan untuk menerangkan kegiatan firma dalam memproduksi dan mencari keuntungan, teori ekonomi menerangkan tentang fungsi produksi dalam jangka pendek. Hubungan diantara factor-faktor produksi dan tingkat produksi yang diciptakannya dinamakan fungsi produksi. Dengan demikian, dalam menggambarkan hubungan antara factor produksi yang digunakan dan tingkat produksi yang dicapai jangka pendek, yang digambarkan adalah hubungan diantara jumlah tenaga kerja yang digunakan dan jumlah produksi yang dicapai. Faktor produksi yang lainnya dianggap tetap.

Fungsi produksi selalu dinyatakan dalam bentuk rumus, yaitu

Q = f (K, L, R, T)

Dimana : K adalah jumlah stok modal, L adalah jumlah tenaga kerja dan ini meliputi berbagai jenis tenaga kerja dan keahlian kewirausahaan, R adalah kekayaan alam, dan T adalah tingkat teknologi yang digunakan. Sedangkan Q adalah jumlah produksi yang dihasilkan oleh berbagai jenis factor-faktor produksi tersebut.

2.6. PELAKU EKONOMI

  1. 1.      Rumah Tangga Konsumsi /RTK

Rumah tangga konsumsi merupakan unit ekonomi yang paling kecil. Rumah tangga konsumsi adalah pemilik atau penyedia jasa dari berbagai faktor produksi. Faktor produksi yang dimiliki oleh rumah tangga akan digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan barang atau jasa. Rumah tangga konsumsi juga akan menggunakan barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan untuk memenuhi kebutuhannya.

Peran Rumah Tangga Konsumsi adalah :

  1. Konsumen
  2. Pemasok atau pemilik faktor produksi

Faktor produksi ada 4 macam yaitu :

  1. Alam
  2. Tenaga kerja
  3. Modal
  4. Skill/keahlian

Dari keempat faktor produksi tersebut yang termasuk faktor produksi asli yaitu alam dan tenaga kerja sedangkan faktor produksi turunan terdiri dari modal dan skill

Balas jasa dari faktor produksi yaitu :

  1. Alam : sewa tanah
  2. Tenaga kerja : upah/gaji
  3. Modal : bunga modal
  4. Skill/keahlian : laba

 

  1. 2.      Rumah Tangga Produksi/RTP/Perusahaan

Perusahaan adalah suatu organisasi yang didirikan oleh satu atau beberapa orang yang bertujuan untuk menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Perusahaan merupakan tempat berlangsungnya produksi.

Peran Perusahaan sebagai pelaku ekonomi yaitu :

  1. Produsen : menghasilkan barang dan jasa
  2. Pengguna faktor produksi : menggunakan faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa
  3. Agen pembangunan : membantu pemerintah dengan menjalankan kegiatan pembangunan

 

  1. 3.      Pemerintahan

Pemerintahan mencangkup semua lembaga atau badan pemerintahan yang memiliki wewenang dan tugas mengatur ekonomi. Dan pemerintah terjun langsung dalam kegiatan ekonomi melalui perusahaan negara (BUMN/BUMD).

Peran Pemerintah sebagai pelaku ekonomi yaitu :

1)      Pengatur : mengatur perekonomian negara sehingga tercipta stabilitas ekonomi agar tidak merugikan masyarakat

a)      pengaturan ekonomi secara langsung

contoh : perizinan, pengendalian lingkungan, pembayaran pajak, peraturan biaya tarif, penghapusan peraturan-peraturan yang dinilai menghambat pertumbuhan ekonomi

b)      pengaturan ekonomi secara tidak langsung

contoh : pemberian insentif bagi produsen untuk memproduksi barang tertentu, himbauan pemerintah agar konglomerat menyerahkan 2,5% keuntungannya untuk mengentaskan kemiskinan

2)      Konsumen : membutuhkan barang dan jasa dalam menjalankan tugasnya

3)      Produsen : menghasilkan barang dan jasa melalui perusahaan milik negara (BUMN dan BUMD)

Regulasi : pengaturan kegiatan ekonomi secara langsung, sehingga pemerintah dapat menata kehidupan perekonomian sedemikian rupa sehingga tidak ada satu pihak pun yang dirugikan

Deregulasi : upaya penghapusan regulasi yang dinilai menghambat perekonomian

  1. 4.      Masyarakat Luar Negeri

Peranan masyarakat luar negeri sebagai pelaku ekonomi adalah :

  1. Perdagangan
  2. Pertukaran tenaga kerja
  3. Penanaman modal
  4. Pemberian pinjaman
  5. Pemberian bantuan

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

  • Untuk menghasilkan barang dan jasa dibutuhkan faktor produksi yang umumnya dikelompokkan dalam alam (tanah), modal, tenaga kerja dan kewirausahaan. Permasalahan pokok dalam faktor produksi ini adalah: (1) bagaimana hubungan antar satu faktor produksi dengan faktor produksi lainnya; dan (2) bagaimana menentukan harga faktor produksi.
  • Terdapat perbedaan tentang klasifikasi faktor produksi, baik di kalangan ekonom konvensional maupun ahli ekonom Islam. Perbedaan klasifikasi ini dilatarbelakangi oleh banyak faktor, misalnya ketidaksamaan tentang definisi, karakteristik, maupun peran dari masing-masing faktor produksi dalam menghasilkan output. Saud (1981) menerima pengklasifikasian faktor produksi sebagaimana dalam ekonomi konvensional, yaitu: sumber daya alam (tanah), usaha manusia (tenaga kerja), modal/kapital, serta organisasi/wirausaha. Sadeq (1992) membagi faktor produksi ini menjadi 4 macam, yaitu tenaga kerja, aset fisik, modal, dan wirausaha. Mannan mengeluarkan modal/kapital (modal dianggap menyatu dengan tenaga kerja) dari faktor produksi, sehingga hanya menyebutkan tiga faktor yaitu wirausaha, tanah dan tenaga kerja. Shafi tidak memasukkan wirausaha sebagai faktor produksi, sehingga hanya tanah, tenaga kerja dan modal, sementara Tahawi mengklasifikasikan 2 faktor produksi, yaitu tenaga kerja dan kekayaan. Klasifikasi Sulaiman agak berbeda dengan arus mainstream, di mana ia mengeluarkan tenaga kerja dari faktor produksi. Siddiqi mengklasifikasikan faktor produksi dari dua sudut pandang, yaitu tenaga kerja dan kekayaan.
  • Penentuan harga faktor produksi dengan pendekatan produksi marjinal mendapat banyak kritik, antara lain: Pertama, konsep ini hanya dapat diterapkan pada fungsi produksi yang memiliki homogenitas berderajat pertama, padahal fungsi ini jarang terdapat dalam dunia nyata. Kedua, konsep ini mengasumsikan adanya persaingan sempurna dalam pasar faktor produksi, di mana semua kekuatan ekonomi terfragmentasi. Ketiga, konsep ini juga mengasumsikan adanya wirausahawan yang profit maximizer, sementara dalam kenyataan tujuan seorang wirausahawan mungkin memiliki beberapa tujuan. Kritikan lain adalah kaitannya dengan faktor produksi tenaga kerja di mana pendekatan ini merupakan suatu perlakukan de-humanisasi dari tenaga kerja.
  • Permintaan terhadap faktor produksi adalah derived demand bukan genuine demand. Terdapat 2 prinsip dasar yang harus dijadikan pedoman dalam penentuan harga faktor produksi, yaitu: nilai keadilan (justice) dan pertimbangan kelangkaan (scarcity). Implikasi dari adanya nilai dasar ini antara lain: (1) Kekuatan pasar tidak dapat digunakan begitu saja bagi penentuan upah. Penentuan upah dilakukan berdasarkan pertimbangan obyektif – yaitu tingkat upah pasar – dan pertimbangan subyektif – yaitu implementasi nilai-nilai kemanusiaan; (2) Tingkat bunga sebagai harga dari modal juga tidak dapat dilakukan, karena ajaran Islam menganggapnya sebagai riba nasi’ah yang haram hukumnya. Penentuan harga modal akan dilakukan secara integratif dengan kontribusi dari kewirausahaan berdasarkan sistem loss profit sharing. (3) Penggunaan sewa (rent) sebagai harga dari tanah sebagai faktor produksi juga tidak dapat diterima begitu saja. Terdapat kontroversi pendapat di kalangan pemikir Islam tentang legalitas sistem sewa dalam pertanahan.

 

 

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s